Email: pusat@itera.ac.id/ | Telpon: (0721) 8030188
Siapkah Kita dengan New Normal

Siapkah Kita dengan New Normal

Print Friendly, PDF & Email

Ditulis Oleh :

Sudewi Mukaromah Khoirunnisa, S.Farm., M.Sc., Apt.
Dosen Prodi Farmasi Institut Teknologi Sumatera (ITERA)

Sejak ditemukannya kasus positif Covid-19 di Indonesia pada awal Maret lalu, pemerintah mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan tujuan untuk mencegah dan mengurangi angka penyebaran. Jika ditilik dari sejarahnya, sebenarnya perilaku PHBS telah digaungkan sejak dulu, tetapi tidak diterapkan secara benar-benar, bahkan kebanyakan mengabaikan. Mencuci tangan terlupakan, terasa awam dan berlebihan menggunakan masker, hingga etika bersin dan batuk yang terlupakan. Perilaku tersebut merupakan hal yang normal dilakukan. Kondisi tersebut kini berubah. Masyarakat bergerak dengan cepat dan mengubah perilaku normal tersebut dalam menghadapi pandemi ini. Tidak hanya di Indonesia, masyarakat di seluruh dunia menjalankan protokol pencegahan Covid-19. Semua kalang-an tanpa terkecuali, dari kalangan pejabat hingga pedagang keliling, terdorong untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat.

Mencuci tangan menjadi hal yang lumrah, bahkan banyak fasilitas umum yang menye-diakan sumber air dan sabun secara sukarela. Menggunakan masker menjadi hal yang biasa, hingga semua tersadar untuk menerapkan etika bersin dan batuk yang sesuai standar.Mungkin bisa dikatakan bahwa inilah hikmah di balik pandemi.

Sebelumnya, pe-rilaku mengabaikan PHBS merupakan hal yang normal, namun saat ini menerapkan PHBS merupakan new normal, normal yang baru, pola kehidupan yang baru di tengah pandemi ini. Semua lapisan masyarakat yang pasti pada awal pandemi merasa berat dan tidak biasa melakukan kebiasaan baru ini menjadi teredukasi dan tersadar akan pentingnya mencegah penyakit dan menjaga kondisi kesehatan. Mereka lebih well informed dan aware atas kesehatan diri mereka sendiri, mencari se-banyak mungkin informasi tentang kesehatan, menerapkan pola hidup yang sehat melalui olahraga, dan mengkonsumsi makanan bersih dan sehat. Ditambah, pembatasan jarak secara sadar dilakukan dan dialihkan dengan pertemuan secara daring.Semua ini dilakukan demi outcome yang sama yaitu menjaga kesehatan diri sendiri dan komunitas.

“Untuk itu, sebelum vaksin pencegahan SARSCoV-2 ditemukan, masyarakat harus mulai menerima kondisi baru ini, adaptasi terhadap beberapa hal baru merupakan ikhtiar terbaik yang bisa dilakukan.”

Kemudian, sampai kapan harus menjalankan kehidupan new normal ini? Kapan wabah ini berakhir? Pertanyaan itu merupakan retorika untuk saat ini. Siapa pun belum dapat memastikan. Dilihat dari tren yang belum menunjukkan penurunan jumlah penyebaran dan masih fluktuatif, kita belum bisa meramalkan kondisi ini akan segera berakhir. Flattening curve yang menjadi target belum dapat terealisasi. Untuk itu, sebelum vaksin pencegahan SARSCoV-2 ditemukan, masyarakat harus mulai menerima kondisi baru ini, adaptasi terhadap beberapa hal baru merupakan ikhtiar terbaik yang bisa dilakukan.

Bentuk new normal membawa kita untuk menemukan pola baru dalam kehidupan sosial, beraktivitas, maupun bekerja. Pemerintah pun juga telah mengim-bau bahwa kita harus berdamai dengan keadaan ini. Masyarakat dituntut untuk menjalani kehidupan produktif dengan tetap menjalankan pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah yang baik agar terhindar dari penularan.

Melawan Covid-19

Mengamalkan PHBS dengan konsisten menjadi cara yang paling ampuh untuk melawan Covid-19. Transisi ini membutuhkan niat, kesabaran, dan tentunya kerja sama dari semua pihak. Kita harus mampu mengambil sisi positif dari wabah ini, berdamai, kemudian mencari celah mana yang bisa kita manfaatkan sebagai peluang.

Tidak dimungkiri bahwa terdapat sisi negatif dari wabah ini. Ketidakstablian perekonomian, terbatasnya ruang gerak, hilangnya pekerjaan, hingga melonjaknya angka kriminalitas. Namun, terdapat hal-hal yang dapat memberikan gambaran sebagai parameter “new normal”.

Pedagang yang menjual produknya melalui sistem online, para guru yang berbagi ilmu dengan cara yang bervariatif, dan kesempatan untuk mendapatkan informasi yang lebih luas melalui pertemuan-pertemuan daring. Semua ini kembali pada diri kita, menanamkan mindset tentang kondisi pandemi ini merupakan langkah awal yang dapat diterapkan.

Masa pandemi saat ini dapat membawa perubahan ke hal positif asalkan semua pihak memiliki sudut pandang yang baik. Bersama-sama mencari solusi terhadap keterbatasan yang ditemui menjadi salah satu kunci supaya kehidupan terus bergerak. Segala aspek diupayakan untuk tetap berjalan, tetapi dengan tetap disiplin menjalankan koridor kebersihan dan kesehatan yang dianjurkan. Menemukan ritme yang tepat da-lam kehidupan baru untuk mencapai makna hidup di tengah segala keterbatasan. Selanjutnya, yang bisa kita lakukan adalah memiliki komitmen yang kuat dalam menjalankan pola kehidupan yang baru sambil berharap semoga wabah ini segera berakhir.

Artikel ini sudah diterbitkan di Surat Kabar Harian Lampung Post (Jumat, 22 Mei 2020)

Close Menu