You are currently viewing Itera dan BPBD Lampung Libatkan Warga Petakan Risiko dan Jalur Evakuasi Bencana

Itera dan BPBD Lampung Libatkan Warga Petakan Risiko dan Jalur Evakuasi Bencana

ITERA NEWS – Institut Teknologi Sumatera (Itera) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung melibatkan masyarakat dalam pemetaan risiko dan jalur evakuasi bencana di Desa Talang Way Sulan, Kecamatan Way Sulan, Kabupaten Lampung Selatan, Selasa, 22 September 2026.

Kegiatan tersebut menggabungkan pendekatan kewilayahan dan spasial untuk mengidentifikasi potensi ancaman, kerentanan, serta kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. Tim Itera terdiri atas Fachri Muhammad Rasyid, S.P.W.K., M.URP., dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota serta Zulfikar Adlan Nadzir, S.T., M.Sc., dan Rachmat Rifqy, S.T., dari Program Studi Teknik Geomatika.

Masyarakat dilibatkan sejak proses identifikasi hingga penyusunan peta. Pendekatan ini digunakan untuk memadukan pengetahuan warga mengenai kondisi lingkungan dengan informasi spasial sehingga rencana evakuasi dapat disusun sesuai karakteristik wilayah.

“Pemetaan berbasis partisipasi masyarakat membantu mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan informasi spasial untuk mendukung perencanaan evakuasi yang lebih sesuai dengan kondisi desa,” kata Fachri.

Dalam prosesnya, masyarakat mengidentifikasi berbagai potensi ancaman bencana dan menentukan tingkat prioritas berdasarkan kemungkinan kejadian serta dampaknya.

Dalam prosesnya, masyarakat mengidentifikasi berbagai potensi ancaman bencana dan menentukan tingkat prioritas berdasarkan kemungkinan kejadian serta dampaknya. Mereka juga mengkaji kerentanan dan kapasitas desa yang mencakup aspek manusia, ekonomi, infrastruktur, lingkungan, dan sosial.

Selain itu, warga memetakan sejumlah unsur penting di wilayah desa, seperti jaringan jalan, permukiman rentan, fasilitas umum, sumber air, sungai, jalur evakuasi, dan titik kumpul. Hasil diskusi kemudian dituangkan dalam peta kerja Desa Talang Way Sulan, termasuk informasi mengenai potensi banjir dan kekeringan.

Kolaborasi Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota dengan Teknik Geomatika memungkinkan aspek sosial, kewilayahan, dan spasial diintegrasikan dalam penyusunan peta risiko dan jalur evakuasi.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami potensi risiko di wilayahnya, tetapi juga memiliki dasar informasi untuk menyusun langkah pengurangan risiko bencana dan merencanakan evakuasi secara lebih terarah. (Rilis/Humas)