ITERA NEWS — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengembangkan inovasi pertanian terpadu berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk mendukung kemandirian ekonomi masyarakat Desa Tulung Singkip, Kecamatan Blambangan Pagar, Lampung Utara. Program yang mengintegrasikan budidaya lele bioflok, hidroponik, dan maggot tersebut diawali melalui sosialisasi kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Karang Taruna setempat, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak–Aksara Peduli Kemendiktisaintek 2026 ini mengusung konsep Integrated Zero Waste Farming System, yakni sistem pertanian dan peternakan terpadu yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya sekaligus mengurangi limbah.
Melalui inovasi tersebut, budidaya lele bioflok memanfaatkan mikroorganisme untuk membantu menjaga kualitas air, hidroponik memungkinkan produksi tanaman pada lahan terbatas, sedangkan maggot berperan mengolah limbah organik menjadi pakan alternatif. Ketiganya dirancang saling mendukung dengan pemanfaatan energi surya untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional.
Ketua Tim PkM Itera, Dr. Eng. Feerzet Achmad, S.T., M.T., menjelaskan bahwa program tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi akan dilanjutkan dengan pembangunan kolam lele bioflok, instalasi hidroponik, dan fasilitas budidaya maggot. Sarana tersebut diharapkan menjadi modal awal pengembangan usaha produktif masyarakat. “Harapannya, fasilitas yang dibangun dapat dimanfaatkan bersama dan terus dikembangkan. Melalui pendampingan mahasiswa, masyarakat diharapkan mampu mengelola sistem secara mandiri sehingga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan ekonomi warga,” ujar Feerzet.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak–Aksara Peduli Kemendiktisaintek 2026 ini mengusung konsep Integrated Zero Waste Farming System, yakni sistem pertanian dan peternakan terpadu yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya sekaligus mengurangi limbah.
Program ini turut melibatkan dosen Itera, yakni Ir. M. Bobby Rahman, S.T., M.Si. (Han)., Ph.D., dan Dean Corio, S.T., M.T., bersama mahasiswa Ikatan Keluarga Mahasiswa Minang (IKM) Itera, Keluarga Mahasiswa (KM) Itera, KKN Rekognisi, serta mahasiswa tugas akhir Program Studi Teknik Elektro. Para mahasiswa akan berperan dalam implementasi, pendampingan teknis, dan pemantauan keberlanjutan program.
Kepala Desa Tulung Singkip, Didit Dwi Purnom, S.H., mengapresiasi inovasi yang dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menambah wawasan dan keterampilan warga, tetapi juga membuka peluang pengembangan usaha baru.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi warga. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan selama sosialisasi. Kami berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan untuk kemajuan desa,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi dosen, mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat, Itera berharap inovasi pertanian terpadu berbasis energi terbarukan ini dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi desa. (Rilis/Humas)

