You are currently viewing Itera Hadirkan Ruang Kreativitas Atap Mimpi untuk Anak-Anak di Desa Banjar Agung

Itera Hadirkan Ruang Kreativitas Atap Mimpi untuk Anak-Anak di Desa Banjar Agung

ITERA NEWS-Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengembangkan ruang kreativitas anak bernama Atap Mimpi di Desa Banjar Agung, Lampung Selatan. Melalui program pengabdian kepada masyarakat (PkM), ruang yang berada di tanah wakaf Masjid Al-Hikmah tersebut dihadirkan sebagai sarana belajar dan bermain sekaligus alternatif kegiatan positif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.

Sebagai bagian dari pengembangan tersebut, tim Itera menyerahkan fasilitas pendukung kegiatan belajar dan bermain beserta buku panduan penggunaannya kepada pengelola setempat, Senin, 2 November 2026. Penyerahan ini juga disertai diskusi mengenai keberlanjutan program agar fasilitas yang telah disediakan dapat dimanfaatkan dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

Mengusung slogan “Ruangnya Kecil, Mimpinya Besar”, Atap Mimpi dilengkapi berbagai fasilitas, seperti rak buku interaktif, partisi kincir angin, tirai bambu, dan meja belajar. Pemanfaatan fasilitas tersebut didukung melalui pendampingan kegiatan kreatif bagi anak-anak selama libur sekolah, mulai dari melipat, mewarnai, hingga membuat miniatur. Dalam kegiatan ini, masyarakat juga dilibatkan agar memiliki keterampilan untuk membuat dan mengembangkan sarana kreativitas secara mandiri.

Berawal dari Proyek Tugas Akhir Mahasiswa

Pengembangan Atap Mimpi merupakan kelanjutan dari proyek tugas akhir mahasiswa Program Studi Arsitektur Itera, Wahyu Sony Ardiyansah dan M. Arif Dermawan. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui kegiatan PkM yang diketuai Amelia Tri Widya bersama Fasha Nurliansyah Mahendra, Yurim Hatamaiya Setyorini, dan Antusias Nurzukhrufa.

“Kami berharap Atap Mimpi tidak hanya menjadi tempat bermain dan belajar, tetapi juga mampu mendorong kreativitas anak serta mengurangi ketergantungan terhadap gawai. Melalui pendampingan ini, kami juga ingin masyarakat dapat mengelola dan mengembangkan fasilitas secara mandiri agar manfaatnya terus berlanjut,” ujar Amelia.

Ketua Tim PkM, Amelia Tri Widya, menjelaskan bahwa pengembangan Atap Mimpi tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas, tetapi juga pada pendampingan anak-anak dan pemberdayaan masyarakat. “Kami berharap Atap Mimpi tidak hanya menjadi tempat bermain dan belajar, tetapi juga mampu mendorong kreativitas anak serta mengurangi ketergantungan terhadap gawai. Melalui pendampingan ini, kami juga ingin masyarakat dapat mengelola dan mengembangkan fasilitas secara mandiri agar manfaatnya terus berlanjut,” ujar Amelia.

Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, tim PkM turut melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), yakni Jacky Dermawan, Imannudin, M. Bilal Faisal, Icha Salsabilla S., dan Arya Wiramada. Kegiatan ini juga dilaksanakan melalui kolaborasi dengan masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat.

Manfaat program mulai dirasakan oleh masyarakat setempat, khususnya anak-anak yang memanfaatkan Atap Mimpi untuk belajar sambil menunggu kegiatan mengaji. Kehadiran ruang tersebut mendapat respons positif dari pengurus Masjid Al-Hikmah yang sekaligus menjadi guru mengaji anak-anak. “Alhamdulillah, dengan adanya Atap Mimpi ini, anak-anak kami dapat belajar bersama sambil menunggu giliran mengaji. Harapannya, mahasiswa dapat terus melanjutkan program yang bermanfaat bagi anak-anak kami.”

Melalui pengembangan Atap Mimpi, Itera berupaya menghadirkan manfaat keilmuan arsitektur secara langsung bagi masyarakat. Program ini sekaligus menjadi wujud implementasi Kampus Berdampak dalam menciptakan lingkungan belajar yang kreatif bagi anak-anak serta mendorong keberlanjutan kegiatan berbasis pemberdayaan masyarakat desa. (Rilis/Humas)