ITERA NEWS – Keluarga Mahasiswa Itera (KM-Itera) menggelar Pojok Diskusi Umum (Podium) 2026 bertema kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Aula Gedung Kuliah Umum (GKU) 1, Senin, 2 November 2026. Diskusi bertajuk “Membaca Ulang Karhutla: Refleksi Warisan Tata Kelola Negara dari Hulu ke Hilir” menghadirkan perspektif akademisi, aktivis lingkungan, dan praktisi lapangan.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung, Irfan Tri Musri, S.E., M.Ling., bersama empat dosen Itera, yakni Lesi Mareta, S.Si., M.Si. (Sains Atmosfer dan Keplanetan), Dr. Raden Putra, S.T. (Teknik Lingkungan), Novriadi, M.S. (Biologi), dan Agung Yoga Pangestu, S.Hut., M.Sc. (Rekayasa Kehutanan), membahas penyebab, dampak, serta persoalan tata kelola karhutla. Diskusi juga menghadirkan alumni Rekayasa Kehutanan Itera, Adhiel Luption Joenior Moehammad, yang berbagi pengalaman langsung menangani kebakaran di Kalimantan Tengah.
Para pemateri menegaskan karhutla di Indonesia tidak dapat semata-mata dipandang sebagai bencana alam. Aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan dan pengeringan gambut melalui kanal, menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko kebakaran. Fenomena El Niño hanya memperparah kondisi kering, bukan menjadi penyebab tunggal. “Kesimpulannya, hutan di Indonesia itu dibakar, bukan terbakar secara alami,” menjadi salah satu pesan utama diskusi.
Selain faktor ekologis, diskusi menyoroti persoalan tata kelola, mulai dari kebakaran berulang di kawasan konsesi, lemahnya penegakan hukum, hingga penanganan yang dinilai masih berorientasi pada pemadaman dibandingkan pencegahan.
Selain faktor ekologis, diskusi menyoroti persoalan tata kelola, mulai dari kebakaran berulang di kawasan konsesi, lemahnya penegakan hukum, hingga penanganan yang dinilai masih berorientasi pada pemadaman dibandingkan pencegahan. Para pemateri menekankan pentingnya pemulihan ekosistem, pengawasan konsesi, dan penegakan hukum untuk mencegah kebakaran berulang.
Adhiel, yang bekerja sebagai staf teknis biodiversity di PT Rimba Makmur Utama (Katingan Mentaya Project), menceritakan pengalaman terlibat dalam operasi pemadaman karhutla 2026 di Kalimantan Tengah. Ia menggambarkan kebakaran gambut yang merambat hingga kedalaman satu sampai tiga meter, asap pekat yang menghambat navigasi, serta kanal kering yang menyulitkan tim memperoleh air untuk pemadaman. Ia juga menemukan satwa terdampak kebakaran, termasuk orangutan dan kura-kura.
Menurut Adhiel, persoalan tersebut berkaitan dengan kerusakan tata kelola gambut sejak proyek lahan gambut sejuta hektare pada 1995, yang meninggalkan ribuan kilometer kanal dan menyebabkan gambut kehilangan air. Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup melalui pemadaman di hilir, tetapi harus disertai pemulihan di hulu melalui pembasahan kembali gambut (rewetting), penanaman ulang (revegetation), dan pemberdayaan ekonomi masyarakat (revitalisation).
Ia mengajak mahasiswa Itera berkontribusi melalui pengembangan teknologi pemantauan tinggi muka air tanah yang terjangkau serta advokasi kebijakan berbasis data. Diskusi ini menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam mendorong pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan mencegah karhutla.
Reporter: Nur Indah Ayu Syafitri (Teknik Sipil)




