ITERA NEWS — Dari jamu yang diwariskan lintas generasi hingga pengembangan obat modern, tanaman Indonesia menyimpan potensi yang belum sepenuhnya tergali. Kekayaan biodiversitas ini menjadi sorotan Rektor Itera, Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., saat menjadi salah satu keynote speakers dalam rangkaian Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026.
Dalam sesi “Unlocking Nature’s Code: Transforming Indonesian Biodiversity into High-Value Phytopharmaca through Technology Innovation,” ia membahas bagaimana kekayaan alam dapat dikembangkan menjadi produk kesehatan bernilai tinggi melalui riset dan inovasi teknologi.
Indonesia memiliki kekayaan hayati yang berpotensi menjadi sumber penemuan senyawa aktif untuk pengembangan obat. Salah satu tanaman yang disorot ialah tapak dara, yang mengandung senyawa bernilai farmasi dan membuka peluang penelitian lebih lanjut
Dalam pemaparannya, Prof. Elfahmi mengajak peserta melihat perjalanan pemanfaatan tumbuhan, mulai dari pengobatan tradisional dan jamu gendong hingga industrialisasi produk farmasi. Indonesia memiliki kekayaan hayati yang berpotensi menjadi sumber penemuan senyawa aktif untuk pengembangan obat. Salah satu tanaman yang disorot ialah tapak dara, yang mengandung senyawa bernilai farmasi dan membuka peluang penelitian lebih lanjut. Potensi tersebut menunjukkan bahwa tanaman yang tumbuh di sekitar masyarakat dapat menyimpan peluang ilmiah yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. “Kita sangat bangga dengan megabiodiversitas yang dimiliki Indonesia. Namun, pertanyaannya, apakah kita sudah mengeksplorasinya secara optimal?” ujar Prof. Elfahmi.
Keterlibatan Rektor Itera sebagai pembicara kunci dalam forum Danantara turut membawa perspektif akademik ke dalam diskusi mengenai masa depan industri berbasis biodiversitas. Selain Prof. Elfahmi, pemateri kompeten lainnya hadir President Director PT Indofarma (Persero) Tbk. Dr. Ir. Sahat Sihombing, M.M., M.H., CERG., dan Kepala Departemen Kimia, FMIPA, IPB University, Prof. Dr. Dra. Dyah Iswantini, M.Sc.Agr.
Penulis : Desisonia Lilia Hadiputri
Fotografer : Arpan Ismail





