ITERA NEWS-Institut Teknologi Sumatera (Itera) bersama British Council Indonesia membuka peluang kerja sama internasional di bidang pendidikan tinggi, pendanaan riset, dan pengembangan kapasitas akademik. Peluang tersebut diperkenalkan melalui kegiatan British Council Day @ Itera: Opportunities and Partnerships Engagement Session yang digelar di Gedung Kuliah Umum (GKU) 2 Itera, Senin, 26 Oktober 2026.
Kegiatan yang diinisiasi Pusat Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami (PMBGT) Itera bersama British Council Indonesia ini memperkenalkan berbagai program kemitraan perguruan tinggi, pendanaan riset internasional, beasiswa studi ke Inggris, serta sertifikasi kemampuan bahasa Inggris melalui IELTS.
Acara diawali dengan sambutan Kepala PMBGT Itera, Prof. Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., dan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Itera, Hadi Teguh Yudistira, S.T., Ph.D. Kegiatan turut dihadiri Dekan Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan (FTIK), perwakilan Universitas Lampung, serta dosen dan mahasiswa dari Itera dan perguruan tinggi lainnya.
Dalam sesi pengantar, British Council memperkenalkan perannya dalam membangun jejaring internasional melalui pendidikan, bahasa Inggris, serta seni dan budaya. Lembaga yang beroperasi di lebih dari 100 negara tersebut telah menjalin 73 kemitraan pendidikan tinggi di Indonesia. Jejaring ini menjadi salah satu peluang bagi perguruan tinggi untuk memperluas kolaborasi akademik dan penelitian lintas negara.
Peluang Kolaborasi Riset dan Beasiswa
Untuk memperluas kemitraan tersebut, Head of Education British Council Indonesia, Muhaimin Syamsuddin, memperkenalkan program Going Global Partnerships yang mendorong kerja sama antarperguruan tinggi di tingkat internasional. Sementara itu, Senior Programme Manager ISPF, Ferdy Maengkom, memaparkan peluang pendanaan riset melalui International Science Partnerships Fund (ISPF) serta pelatihan Researcher Connect untuk meningkatkan kapasitas peneliti.
Selain kerja sama riset, British Council membuka akses informasi mengenai peluang studi lanjut di Inggris bagi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi. Senior Marketing Manager Study UK, Gitagowinda Feiz, memperkenalkan sejumlah program beasiswa, antara lain Chevening, GREAT Scholarships, dan Women in STEM.
Ketiga program tersebut menawarkan skema pendanaan yang berbeda. Chevening menyediakan beasiswa penuh bagi kandidat yang memenuhi persyaratan, sedangkan GREAT Scholarships memberikan bantuan biaya pendidikan minimal 10.000 pound sterling untuk program magister. Adapun Women in STEM ditujukan bagi perempuan yang ingin melanjutkan pendidikan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.
Peserta juga memperoleh informasi mengenai sistem pendidikan tinggi di Inggris, kesempatan bekerja paruh waktu selama masa studi, serta peluang pengembangan karier setelah lulus sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Untuk mendukung persiapan studi internasional, British Council turut memperkenalkan layanan tes kemampuan bahasa Inggris IELTS. Marketing Manager Examinations Southeast Asia, Narita Singer, menjelaskan bahwa hasil IELTS telah diterima oleh lebih dari 13.500 institusi di seluruh dunia. British Council juga menyediakan fasilitas One Skill Retake yang memungkinkan peserta mengulang satu komponen tes, serta IELTS Ready Premium sebagai sarana persiapan ujian.
Setelah seluruh materi disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang dimoderatori Prof. Harkunti Pertiwi Rahayu. Melalui sesi ini, peserta berkesempatan menggali informasi lebih lanjut mengenai peluang kemitraan perguruan tinggi, pendanaan riset, beasiswa, dan persiapan studi internasional.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Itera untuk memperluas jejaring kerja sama internasional, meningkatkan peluang dosen memperoleh pendanaan riset global, serta membuka akses pendidikan lanjutan bagi mahasiswa dan lulusan di Inggris. (Rilis/Humas)
