ITERA NEWS-Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan (SAP), Fakultas Sains, Institut Teknologi Sumatera (Itera), menggelar Studium Generale bertajuk “Urban Heat Island: Mengapa Kota Semakin Panas?”, Rabu, 28 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung secara daring ini menghadirkan peneliti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk membahas penyebab, dampak, serta metode pengamatan fenomena peningkatan suhu di kawasan perkotaan.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri atas mahasiswa lintas program studi, masyarakat umum, serta peneliti BMKG, termasuk dari BMKG Sulawesi Utara. Acara dibuka oleh Koordinator Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan Itera, Dr. Wirid Birastri, M.Si., dan dimoderatori oleh Lesi Mareta, S.Si., M.Si.
Hadir sebagai narasumber, Siswanto, S.Si., M.Sc., Ph.D., peneliti sekaligus Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan di Direktorat Layanan Iklim Terapan BMKG. Dalam pemaparannya, Siswanto menjelaskan bahwa urban heat island (UHI) merupakan fenomena ketika suhu di kawasan perkotaan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah sekitarnya.
“UHI bukanlah sebuah takdir, namun fenomena yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang tidak ramah iklim,”
Fenomena tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, seperti perubahan penggunaan dan tutupan lahan, kepadatan bangunan, berkurangnya ruang terbuka hijau, serta aktivitas manusia yang mengubah keseimbangan energi di permukaan Bumi. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan lingkungan perkotaan yang perlu dipahami melalui pendekatan ilmiah.
“UHI bukanlah sebuah takdir, namun fenomena yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang tidak ramah iklim,” ujar Siswanto.
Selain mengulas penyebab dan dampaknya terhadap lingkungan serta masyarakat, Siswanto memaparkan metode pengamatan UHI, termasuk surface urban heat island (SUHI) dan canopy layer urban heat island (CUHI). Ia juga menjelaskan pemanfaatan data penginderaan jauh untuk menganalisis variasi suhu permukaan dan memahami dinamika iklim perkotaan.
Siswanto merupakan peneliti yang berpengalaman di bidang meteorologi, pemodelan iklim, perubahan iklim, dan iklim perkotaan. Ia meraih gelar doktor dalam bidang urban climate change dari Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda. Sejumlah penelitiannya mengkaji pengaruh perubahan penggunaan dan tutupan lahan terhadap suhu perkotaan serta karakteristik spasial dan temporal UHI di kawasan metropolitan Jakarta.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi yang membahas penyebab pemanasan perkotaan, dampak UHI terhadap kehidupan masyarakat, metode pengukuran, serta keterkaitannya dengan curah hujan dan perubahan iklim. Pemanfaatan data penginderaan jauh untuk mengamati suhu permukaan turut menjadi perhatian peserta.
Kehadiran peneliti BMKG dan mahasiswa lintas program studi memperkaya diskusi melalui beragam perspektif keilmuan, mulai dari sains atmosfer, sains data, kehutanan, hingga pengelolaan lingkungan. Forum ini sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan antara akademisi, peneliti, dan masyarakat.
Melalui Studium Generale ini, Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan Itera berharap peserta semakin memahami fenomena UHI dan terdorong mengembangkan penelitian tentang dinamika atmosfer perkotaan. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat mendukung upaya mitigasi dampak panas perkotaan serta pengembangan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Itera untuk memperkuat kolaborasi dan pertukaran ilmu antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan masyarakat. (Rilis/Humas)
