ITERA NEWS – Institut Teknologi Sumatera (Itera) menjadi tuan rumah Seminar Nasional Badan Kerja Sama Penyelenggara Pendidikan Tinggi Teknik Industri (BKSTI) Koordinator Wilayah Sumatera 2 di Aula Gedung Kuliah Umum 2, Kamis, 22 Oktober 2026. Seminar bertema “Inovasi Teknik Industri untuk Ekonomi Biru dan Hijau Sumatera” ini merupakan bagian dari rangkaian Pertemuan Tahunan BKSTI Sumatera 2.
Seminar menghadirkan tiga pemateri, yakni Guru Besar Teknik Industri Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Akhmad Hidayatno, S.T., M.B.T., IPU, APEC Eng., Vice President Decarbonization Business Development PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), Ir. Ricky Cahya Andrian, S.T., M.M., IPU, ASEAN Eng., serta Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Itera, Ir. Hadi Teguh Yudistira, S.T., Ph.D. Diskusi dipandu dosen Teknik Industri Itera, Rinda Gusvita, S.TP., M.Sc.
Ketua Pelaksana Muhammad Iqbal, S.T., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti sekitar 68 dosen Teknik Industri dari 20 kampus. Rangkaian acara meliputi kunjungan industri, sesi pendidikan berbasis capaian, Musyawarah Wilayah, serta pengabdian kepada masyarakat di Pulau Pahawang. Selain itu, lomba karya tulis mahasiswa diikuti 51 kelompok atau sekitar 200 mahasiswa dari 20 kampus.
Iqbal menjelaskan, jumlah program studi Teknik Industri di wilayah Sumatera 2 meningkat dari 33 pada 2023 menjadi 41 program studi. Pertumbuhan tersebut perlu diimbangi dengan pemerataan mutu pendidikan. Untuk itu, BKSTI menghadirkan narasumber nasional dan internasional, melibatkan mahasiswa melalui kompetisi Body of Knowledge Industrial Engineering, serta mendorong pertukaran praktik baik dari program studi unggul, seperti Universitas Andalas dan Universitas Muhammadiyah Palembang.
Jumlah program studi Teknik Industri di wilayah Sumatera 2 meningkat dari 33 pada 2023 menjadi 41 program studi. Pertumbuhan tersebut perlu diimbangi dengan pemerataan mutu pendidikan.
Ketua BKSTI Koordinator Wilayah Sumatera 2, Prof. Fitra Lestari Norhiza, S.T., M.T., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., menekankan bahwa Teknik Industri perlu bertumpu pada tiga pilar, yaitu berpusat pada manusia, berkelanjutan, dan tangguh. Penerapan ketiganya perlu didukung kecerdasan buatan dan teknologi digital. Ia berharap Musyawarah Wilayah menghasilkan kepengurusan baru yang solid dengan melibatkan dosen muda.
Mewakili Rektor Itera, Dekan Fakultas Teknologi Industri Itera, Hafiz Budi Firmansyah, S.Kom., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa pada usia ke-12, Itera memiliki lebih dari 22.000 mahasiswa, 41 program studi sarjana, dan lebih dari 700 dosen. Ia berharap pertemuan ini membuka peluang kolaborasi penelitian, pertukaran mahasiswa dan dosen, serta kerja sama dengan industri.
Sistem hingga Dekarbonisasi
Pada sesi materi, Prof. Dr. Ir. Akhmad Hidayatno, S.T., M.B.T., IPU, APEC Eng., membawakan topik “Industrial Engineering in the Age of Systems”. Ia menyoroti kecenderungan lulusan Teknik Industri mengoptimalkan bagian tertentu tanpa mempertanyakan batas sistem secara keseluruhan. Akibatnya, mereka berisiko menghasilkan jawaban tepat untuk masalah yang keliru.
Ia mencontohkan kebijakan biodiesel yang, berdasarkan model yang dipaparkannya, dapat menyebabkan pasokan minyak goreng tidak mencukupi jika persentase campuran melampaui 51,3 persen. Karena itu, pemikiran sistem perlu diajarkan secara terstruktur melalui empat aspek pertanyaan, yaitu proses, komponen, hubungan, dan konteks. Ia juga mengingatkan mahasiswa agar mengembangkan pemikiran kritis sebelum menggunakan kecerdasan buatan.
Pemateri kedua, Ir. Ricky Cahya Andrian, S.T., M.M., IPU, ASEAN Eng., membawakan materi “Dekarbonisasi: Jembatan Ekonomi Biru dan Hijau”. Ia menyebutkan bahwa pencapaian target emisi nol bersih pada 2060 membutuhkan pendanaan Rp28.273 triliun. Sejumlah inisiatif yang dipaparkan meliputi pembangkit listrik hibrida di Technopark Pulau Rengit, Belitung; pembakaran bersama biomassa di PLTU Rembang; pemanfaatan karbon dengan mikroalga; pasokan listrik dari darat untuk kapal yang bersandar; perahu nelayan listrik; serta pengembangan 3.772 mesin pengisian kendaraan listrik.
Sementara itu, Ir. Hadi Teguh Yudistira, S.T., Ph.D., yang mengikuti seminar secara daring, menyampaikan materi “Sustainable Metamaterial: Printing as Fabrication Method and Energy Applications”. Ia menjelaskan bahwa metamaterial merupakan material buatan yang sifatnya ditentukan oleh struktur unit penyusunnya. Material ini berpotensi diterapkan dalam teknologi siluman, sensor, dan pemanenan energi.
Dalam pemaparannya, ia membahas metode fabrikasi menggunakan pencetakan tinta jet elektrohidrodinamik yang mampu menghasilkan pola berukuran 1–5 mikrometer pada area luas. Kinerjanya juga dibandingkan dengan hasil litografi berkas elektron. Selain itu, ia menyinggung penelitian logam tanah jarang di Itera.
Tim Liputan
Reporter: Annisa Nurazizah Khairani (Teknik Industri) dan Khaila Anindya Arza (Teknik Industri)
Fotografer: Raffi Akbar Nugraha (Teknik Informatika)






