ITERA NEWS – Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengenalkan teknologi constructed wetland sebagai solusi pengolahan air limbah berbasis alam kepada santri Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an (PPTQ) Assahil, Desa Tanjung Wangi, Kecamatan Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Teknologi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang melibatkan dosen Program Studi Teknik Lingkungan dan Rekayasa Tata Kelola Air Itera serta mahasiswa KKN Rekognisi 2026. Kegiatan mengusung tema Pemberdayaan Santri melalui Implementasi Teknologi Constructed Wetland dalam Pengelolaan Air Limbah Menuju Pesantren Berkelanjutan.
Ketua Tim PkM, Indah Yusliga Sari Purba, S.Si., M.T., menjelaskan constructed wetland merupakan salah satu pendekatan Nature-based Solutions yang meniru proses alami lahan basah untuk mengolah air limbah. Teknologi ini memanfaatkan media filter, mikroorganisme, dan tanaman tertentu untuk membantu menurunkan kadar pencemar dalam air limbah.
“Constructed wetland mengajak kita mempelajari cara alam bekerja dalam mengolah air. Teknologi ini dapat menjadi alternatif pengolahan air limbah yang sederhana dan sesuai untuk diterapkan di lingkungan pesantren,” ujar Indah.
Constructed wetland mengajak kita mempelajari cara alam bekerja dalam mengolah air. Teknologi ini dapat menjadi alternatif pengolahan air limbah yang sederhana dan sesuai untuk diterapkan di lingkungan pesantren
Dosen Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Itera, Erlina Kurnianingtyas, S.T., M.Eng., kemudian memperkenalkan prinsip kerja dan komponen constructed wetland kepada para santri. Materi dilanjutkan dengan praktik pembuatan sistem pengolahan air limbah.
Dengan pendampingan tim PkM dan mahasiswa, santri mempraktikkan penyusunan media dan penanaman vegetasi adaptif, seperti bunga tasbih dan eceng gondok. Sistem yang digunakan terdiri atas tipe subsurface flow dan free-water floating untuk mengolah air limbah dari aktivitas laundry pesantren.
Santri juga belajar memantau kinerja sistem melalui pengamatan pertumbuhan tanaman dan pengukuran kualitas air limbah. Praktik tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai penerapan teknologi sederhana dalam pengelolaan lingkungan.
Untuk mendukung keberlanjutan program, tim PkM menyerahkan buku panduan constructed wetland kepada PPTQ Assahil. Panduan tersebut dapat digunakan santri dan pengelola pesantren untuk memahami serta mengembangkan sistem pengolahan air limbah secara mandiri.
Kegiatan yang merupakan bagian dari PkM Skema Program Pemberdayaan Masyarakat Lingkup Kepakaran Tahun 2026 dan didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Itera tersebut diharapkan menjadi langkah awal penerapan pengelolaan air limbah yang lebih berkelanjutan di lingkungan pesantren. (Rilis/Humas)

