ITERA NEWS – Menghafal Al-Quran tidak berhenti pada kemampuan mengingat ayat. Nilai-nilainya perlu tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan dosen Pendidikan Agama Islam, Institut Teknologi Sumatera (Itera), M. Luqmanul Hakim Habibie, M.Pd.I., saat menjadi pembicara dalam kegiatan Penguatan Karakter Qur’ani Santri di Asrama Tahfidz Sunan Bonang, Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Rabu–Kamis, 26–27 Agustus 2026.
Mengusung tema “Mengenal dan Menanamkan Nilai-Nilai Karakter Qur’ani”, kegiatan tersebut mengajak santri memahami pentingnya mengimbangi hafalan dengan pembentukan karakter.
Luqmanul Hakim mengatakan, keberhasilan penghafal Al-Quran tidak hanya diukur dari banyaknya ayat yang dihafalkan. Hafalan semestinya tercermin dalam cara berbicara, bersikap, menghormati orang lain, menjaga amanah, dan mengambil keputusan. “Hafalan Al-Quran harus melahirkan perubahan dalam diri. Ketika Al-Quran benar-benar masuk ke dalam hati, ia akan terlihat dalam cara seorang santri berbicara, bersikap, menghormati orang lain, menjaga amanah, dan mengambil keputusan,” ujar Luqmanul Hakim.
Hafalan Al-Qur’an harus melahirkan perubahan dalam diri. Ketika Al-Quran benar-benar masuk ke dalam hati, ia akan terlihat dalam cara seorang santri berbicara, bersikap, menghormati orang lain, menjaga amanah, dan mengambil keputusan
Ia menekankan, karakter Qurani dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Karena itu, santri didorong membiasakan kejujuran, kesabaran, kedisiplinan, tanggung jawab, rendah hati, menjaga lisan, menghormati guru dan orang tua, serta peduli terhadap sesama. “Karakter Qurani bukan sesuatu yang selesai dalam satu kajian. Ia dibentuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus,” katanya.
Menurut Luqmanul Hakim, pesantren memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter karena menjadi ruang bagi santri untuk mempraktikkan nilai-nilai Al-Quran melalui keteladanan dan pembiasaan.
Bekal ke Masyarakat
Pengasuh Asrama Tahfidz Sunan Bonang, Agus H.M. Jauharul Afif, Lc., M.Ag., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter santri. Pesantren, kata dia, tidak hanya ingin melahirkan generasi yang kuat dalam hafalan, tetapi juga memiliki akhlak yang mencerminkan nilai-nilai Al-Quran dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami berharap anak-anak yang belajar dan menghafal Al-Quran di sini tidak hanya menjadi orang yang hafal Al-Quran, tetapi juga menjadi manusia yang perilakunya mencerminkan Akhlaq Al-Quran,” ujarnya.
Ia berharap materi yang diberikan dapat diterapkan dalam keseharian, mulai dari meningkatkan kedisiplinan, menjaga lisan, menghormati guru, hingga memperkuat kedekatan dengan Al-Quran. (Rilis/Humas)

