You are currently viewing Atasi Cuaca Tak Menentu, Itera Hadirkan Solar Dryer Dome untuk Bantu Petani Kakao

Atasi Cuaca Tak Menentu, Itera Hadirkan Solar Dryer Dome untuk Bantu Petani Kakao

ITERA NEWS — Cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu kendala petani kakao di Desa Cilimus, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Proses pengeringan yang masih mengandalkan penjemuran terbuka membuat biji kakao rentan kembali lembap ketika hujan turun sehingga berisiko menurunkan mutu dan harga jual.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Institut Teknologi Sumatera (Itera) bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Rekognisi (KKN-R) mengenalkan teknologi solar dryer dome kepada petani kakao di Desa Cilimus, Kamis, 20 Agustus 2026.

Desa Cilimus memiliki potensi kakao yang cukup besar. Namun, pengeringan biji kakao masih dilakukan secara tradisional dan sangat bergantung pada kondisi cuaca. Saat hujan turun atau kelembapan tinggi, proses pengeringan menjadi lebih lama dan dapat meningkatkan risiko pertumbuhan jamur serta kontaminasi bahan.

Ketua Tim PkM Itera, Anisa Fitri, M.T., mengatakan teknologi tersebut dirancang sebagai solusi atas persoalan pengeringan yang dihadapi petani. Solar dryer dome memanfaatkan energi matahari dengan ruang pengering yang melindungi bahan dari hujan, debu, dan kontaminasi lingkungan. “Kualitas biji kakao sangat ditentukan oleh proses pengeringannya. Selama ini petani bertaruh pada kondisi cuaca. Jika hujan turun, penjemuran terhenti dan biji berisiko terserang jamur,” kata Anisa.

Kualitas biji kakao sangat ditentukan oleh proses pengeringannya. Selama ini petani bertaruh pada kondisi cuaca. Jika hujan turun, penjemuran terhenti dan biji berisiko terserang jamur

Menurut dia, solar dryer dome yang diperkenalkan memiliki kapasitas sekitar 40–50 kilogram per batch. Selain mengenalkan teknologi, tim juga memberikan pelatihan mengenai penataan biji pada rak bertingkat, pemantauan suhu dan kelembapan, serta pengaturan sirkulasi udara selama proses pengeringan.

Petani juga diperkenalkan dengan penggunaan ruang pengering untuk menjaga proses pengeringan berlangsung lebih terlindungi dan terkontrol dibandingkan penjemuran di ruang terbuka.

Salah satu petani kakao, Waluyo, mengatakan cuaca menjadi persoalan terutama saat musim pancaroba. Biji kakao yang tidak kering sempurna berisiko mengalami penurunan kualitas dan berdampak pada harga jual. “Kalau menjemur di tempat terbuka, kami selalu was-was setiap kali langit mendung. Sering kali biji kakao tidak kering sempurna dan akhirnya dihargai murah,” ujar Waluyo.

Ia berharap teknologi yang diperkenalkan Itera dapat membantu petani mengurangi ketergantungan pada kondisi cuaca sekaligus menjaga kualitas hasil panen.

Kegiatan yang diketuai Anisa Fitri dengan anggota dosen Quratul Aini, S.Si., M.T., serta mahasiswa KKN-R Itera tersebut merupakan bagian dari hibah PkM Pemberdayaan Masyarakat Lingkup Kepakaran (PMLK) Itera 2026. Melalui penerapan teknologi tepat guna dan pendampingan kepada petani, Itera mendorong peningkatan kualitas pengolahan kakao sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah komoditas kakao Desa Cilimus.

Penulis : Andre Ramadhani (Teknik Material)