ITERA NEWS — Kepakaran dosen Institut Teknologi Sumatera (Itera) dalam bidang perencanaan wilayah dan pembangunan berkelanjutan kembali mendapat pengakuan pada tingkat nasional. Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) sekaligus Kepala Pusat Studi Sustainable Development Goals (SDGs) Itera, Dwi Bayu Prasetya, S.T., M.T., dipercaya menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Data Perumahan Tahun Anggaran 2025 dan 2026 Provinsi Lampung yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perumahan Perdesaan, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman Republik Indonesia, di Lampung Tengah, Kamis, 2 Juli 2026.
Forum tersebut diikuti pemerintah daerah se-Provinsi Lampung, instansi teknis, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan sebagai upaya memperkuat sistem data perumahan untuk mendukung implementasi Program 3 Juta Rumah yang menjadi salah satu program strategis nasional di sektor perumahan.
Dalam pemaparannya, Dwi Bayu Prasetya, menegaskan bahwa keberhasilan Program 3 Juta Rumah tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran maupun jumlah rumah yang dibangun, tetapi juga oleh kualitas data yang digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan. Menurutnya, pendataan perumahan yang akurat mampu mengidentifikasi kebutuhan rumah layak huni, kondisi rumah tidak layak huni (RTLH), ketersediaan lahan, akses terhadap infrastruktur dasar, hingga karakteristik sosial ekonomi masyarakat sehingga intervensi pemerintah dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.
Program 3 Juta Rumah tidak hanya berbicara mengenai kuantitas pembangunan rumah, tetapi juga bagaimana memastikan setiap pembangunan dilakukan berdasarkan data yang akurat, memperhatikan aspek keberlanjutan, serta memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan bagi masyarakat. Di sinilah perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghadirkan rekomendasi kebijakan berbasis riset
Sebagai akademisi yang memiliki kepakaran pada bidang perencanaan wilayah, pembangunan kawasan, dan pembangunan berkelanjutan, Dwi Bayu menjelaskan bahwa sektor perumahan memiliki dampak ekonomi dan sosial yang luas melalui efek pengganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor, seperti industri bahan bangunan, jasa konstruksi, transportasi, serta penciptaan lapangan kerja.
“Kebijakan penyediaan perumahan harus dibangun di atas data yang valid, terintegrasi, dan berkelanjutan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat,” ujar Dwi Bayu Prasetya.
Dwi Bayu menambahkan, pemanfaatan teknologi geospasial seperti Sistem Informasi Geografis (SIG), citra satelit resolusi tinggi, dan teknologi penginderaan jauh dapat meningkatkan efektivitas pendataan perumahan serta menghasilkan informasi spasial yang lebih komprehensif untuk mendukung pengambilan keputusan.
“Program 3 Juta Rumah tidak hanya berbicara mengenai kuantitas pembangunan rumah, tetapi juga bagaimana memastikan setiap pembangunan dilakukan berdasarkan data yang akurat, memperhatikan aspek keberlanjutan, serta memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan bagi masyarakat. Di sinilah perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghadirkan rekomendasi kebijakan berbasis riset,” kata Dwi Bayu Prasetya.
Tujuan SDGs
Sementara, sebagai Kepala Pusat Studi SDGs Itera, ia juga menyoroti keterkaitan erat Program 3 Juta Rumah dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, terutama pada aspek pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, pembangunan infrastruktur, pembangunan kota dan permukiman berkelanjutan, serta upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Keterlibatan Dwi Bayu Prasetya, dalam forum strategis tersebut sekaligus menunjukkan kontribusi nyata kepakaran dosen Itera dalam mendukung pembangunan nasional melalui pendekatan ilmiah dan berbasis bukti (evidence-based policy).
Keterlibatan Dwi Bayu Prasetya, dalam forum strategis tersebut sekaligus menunjukkan kontribusi nyata kepakaran dosen Itera dalam mendukung pembangunan nasional melalui pendekatan ilmiah dan berbasis bukti (evidence-based policy). Melalui Pusat Studi SDGs, Itera terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mendukung pembangunan wilayah yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing.
“Keterlibatan Itera dalam forum ini merupakan bagian dari komitmen Pusat Studi SDGs Itera untuk menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan kebijakan publik. Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memastikan ilmu pengetahuan dapat diterapkan dalam menyelesaikan persoalan pembangunan, termasuk penyediaan perumahan yang layak, inklusif, dan berkelanjutan,” tutup Dwi Bayu Prasetya. (Rilis/Humas)



