ITERA NEWS — Program Studi Rekayasa Kosmetik, Institut Teknologi Sumatera (Itera), menggelar Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Penguatan Roadmap Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Kamis, 13 Agustus 2026. Kegiatan ini membahas penguatan arah penelitian, PKM, dan kurikulum agar selaras dengan perkembangan keilmuan, potensi biodiversitas Sumatera, serta kebutuhan industri kosmetik.
DKT menghadirkan Dr. Sutriyo, M.Si., Apt., President of The Society of Indonesian Cosmetics Scientist dan Research Cluster of Cosmetics and Health Supplement Product, Faculty of Pharmacy, Universitas Indonesia, serta Tono Eko Prayitno, S.Si., Regulatory Affairs Manager PT Unilever. Kegiatan diikuti dosen dan sivitas akademika Program Studi Rekayasa Kosmetik.
Dr. Sutriyo menekankan pentingnya membangun roadmap Rekayasa Kosmetik sebagai ekosistem keilmuan terintegrasi, mencakup penelitian dan pengembangan (R&D), formulasi, teknologi aplikasi, manufaktur, hingga evaluasi efikasi. Pengembangan pusat rekayasa formulasi juga didorong agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi, tetapi dapat dikembangkan menjadi prototipe dan solusi bagi industri.
Roadmap penelitian diarahkan pada pemanfaatan biodiversitas Sumatera sebagai sumber bahan aktif dan bahan baku kosmetik bernilai tambah, seperti minyak atsiri, gambir, kelapa sawit dan turunannya, kopi, kakao, serta tumbuhan obat. Pengembangannya mencakup karakterisasi, standardisasi, formulasi, dan penguatan nilai bahan alam lokal.
Roadmap penelitian diarahkan pada pemanfaatan biodiversitas Sumatera sebagai sumber bahan aktif dan bahan baku kosmetik bernilai tambah, seperti minyak atsiri, gambir, kelapa sawit dan turunannya, kopi, kakao, serta tumbuhan obat.
Selain itu, penelitian diarahkan pada nanoteknologi dan sistem penghantaran bahan aktif, seperti nanoemulsi, liposom, dan mikroenkapsulasi, serta pemanfaatan limbah agroindustri. Penguatan evaluasi efikasi melalui metode in-vitro dan non-hewan juga menjadi perhatian untuk mendukung pengembangan kosmetik berbasis bukti.
Pembahasan turut mengaitkan roadmap penelitian dengan pengembangan kurikulum. Kompetensi R&D, formulasi, karakterisasi, manufaktur, teknologi aplikasi, hingga evaluasi efikasi perlu terintegrasi dalam pembelajaran agar mahasiswa memiliki pemahaman menyeluruh mengenai pengembangan produk kosmetik.
Perspektif industri dari Tono Eko Prayitno memperkuat pembahasan, terutama terkait regulasi, keamanan, mutu, efektivitas, dan kesiapan implementasi produk. Sinergi akademik dan industri diharapkan menghasilkan roadmap yang kuat secara ilmiah sekaligus relevan dengan kebutuhan industri dan dunia kerja.
Hasil penelitian juga diharapkan dapat mendukung PKM melalui transfer pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat, UMKM, dan pelaku usaha. Dengan demikian, penelitian, pembelajaran, dan PKM dapat membentuk siklus yang saling memperkuat.
Hasil DKT selanjutnya menjadi bahan penyempurnaan roadmap penelitian dan PKM serta pengembangan kurikulum Program Studi Rekayasa Kosmetik. Langkah ini diharapkan memperkuat ekosistem pendidikan dan penelitian sekaligus mendorong pemanfaatan biodiversitas lokal secara bertanggung jawab bagi pengembangan industri kosmetik Indonesia yang inovatif dan berkelanjutan. (Rilis/Humas)
