ITERA NEWS – Tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Rekognisi Institut Teknologi Sumatera (Itera) yang berasal dari Program Studi Teknik Biomedis dan Prodi Rekayasa Instrumentasi dan Automasi, Fakultas Teknologi Industri (FTI), mengembangkan kit monitoring kesehatan berbasis biosensor sebagai media pembelajaran yang inovatif dan aplikatif. Program tersebut diterapkan di SMA Negeri 1 Pasir Sakti, Lampung Timur, yang diharapkan memperkuat pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) siswa.
Kegiatan tersebut merupakan Program Pemberdayaan Masyarakat Lingkup Kepakaran Itera Tahun Anggaran 2026 yang diintegrasikan dengan pelaksanaan KKN Rekognisi. Tim KKN dipimpin mahasiswa Program Studi Rekayasa Instrumentasi dan Automasi, Dimas Bayu Satrio, dengan dosen pendamping lapangan I Gde Eka Dirgayussa, M.Si.
I Gde Eka Dirgayussa, M.Si., menjelaskan Kit yang dikembangkan terdiri atas dua unit perangkat portabel yang dilengkapi dengan sensor detak jantung MAX30102, sensor suhu tubuh non-kontak MLX90614 GY-906, sensor elektrokardiografi (ECG) AD8232, sensor suhu dan kelembapan DHT11, serta mikrokontroler ESP32. Perangkat ini dirancang agar siswa dapat melakukan pengukuran parameter fisiologis secara langsung, memahami prinsip kerja biosensor, serta mengolah dan menganalisis data kesehatan secara sederhana sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek. Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa tahapan, meliputi pelatihan guru, implementasi pembelajaran kepada siswa, serta pendampingan dan monitoring.
Perangkat ini dirancang agar siswa dapat melakukan pengukuran parameter fisiologis secara langsung, memahami prinsip kerja biosensor, serta mengolah dan menganalisis data kesehatan secara sederhana sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek.
Kepala SMA Negeri 1 Pasir Sakti, Hasbullah, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi program yang dinilai mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sains di sekolah. “Kehadiran kit monitoring kesehatan ini memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata sehingga siswa dapat memahami konsep STEM secara lebih konkret,” ujar Hasbullah.
Kolaborasi antara Program Studi Teknik Biomedis dan Program Studi Rekayasa Instrumentasi dan Automasi menjadi kekuatan utama dalam pengembangan perangkat ini. Sinergi kedua bidang keilmuan memungkinkan integrasi teknologi biosensor dengan sistem instrumentasi modern sehingga menghasilkan media pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi kesehatan.
Melalui program KKN Rekognisi ini, tim menargetkan peningkatan pemahaman konsep STEM siswa hingga minimal 60 persen, penyusunan lima judul praktikum baru berbasis biosensor, penyediaan modul penggunaan kit monitoring kesehatan, serta terbentuknya guru-guru yang mampu menjadi fasilitator dalam pemanfaatan teknologi tersebut secara berkelanjutan. (Rilis/Humas)
