Kolaborasi Itera–ITB Dorong Pengembangan Bioetanol dari Limbah Tapioka

Kolaborasi Itera–ITB Dorong Pengembangan Bioetanol dari Limbah Tapioka

Print Friendly, PDF & Email

ITERA NEWS – Institut Teknologi Sumatera (Itera) berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) mendorong pengembangan bioetanol berbasis limbah agroindustri sebagai bagian dari upaya mendukung kemandirian energi nasional. Hal ini disampaikan dalam kegiatan Upskilling Session yang diselenggarakan PT Pertamina (Persero) di InterContinental Hotel Dago Pakar, Bandung, Jumat, 24 Juli 2026.

Kegiatan tersebut menjadi forum berbagi pengetahuan terkait pengembangan biofuel dalam kerangka strategi Building Low Carbon Businesses yang diusung Pertamina. Itera diwakili Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat dan Kemitraan Strategis LPPM Itera, Abdul Rozak Kodarif, S.ST., M.T., bersama Prof. Yazid Bindar dan Ir. Elvi Restiawaty, Ph.D. dari ITB yang tergabung dalam tim pengembangan ampas tapioka menjadi bioetanol di Lampung.

Kehadiran tim merupakan tindak lanjut undangan PT Pertamina (Persero) untuk memaparkan hasil riset dan pengalaman pengembangan bioetanol berbasis onggok atau ampas tapioka sebagai sumber energi terbarukan potensial di Indonesia.

Dalam pemaparannya, tim menjelaskan besarnya potensi Provinsi Lampung sebagai sentra produksi singkong nasional yang menghasilkan limbah tapioka dalam jumlah melimpah. Selama ini, onggok umumnya dimanfaatkan sebagai pakan ternak dengan nilai ekonomi relatif rendah. Melalui teknologi biokonversi, limbah tersebut dapat diolah menjadi bioetanol bernilai tambah sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular.

Selama ini, onggok umumnya dimanfaatkan sebagai pakan ternak dengan nilai ekonomi relatif rendah. Melalui teknologi biokonversi, limbah tersebut dapat diolah menjadi bioetanol bernilai tambah sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular.

Tim juga memaparkan tahapan produksi bioetanol yang meliputi pretreatment, sakarifikasi, fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae, hingga proses distilasi. Selain itu, pendekatan Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF) dinilai berpotensi meningkatkan efisiensi produksi. Integrasi antara industri tapioka, fasilitas bioetanol, serta pemanfaatan residu menjadi biogas turut ditekankan untuk mewujudkan sistem produksi berkelanjutan.

Dari sisi implementasi industri, model rantai pasok berbasis klaster diperkenalkan sebagai strategi pengembangan. Model ini mengintegrasikan sentra industri tapioka dengan fasilitas produksi bioetanol guna menjaga pasokan bahan baku, meningkatkan efisiensi logistik, dan memperkuat kesiapan hilirisasi teknologi.

Partisipasi Itera bersama ITB dalam forum ini menegaskan peran aktif perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi ilmiah bagi tantangan energi nasional. Kolaborasi dengan industri diharapkan dapat mempercepat pengembangan teknologi biofuel berbasis sumber daya lokal serta mendukung transisi menuju energi baru dan terbarukan di Indonesia. (Rilis/Humas)