Dosen Itera Bahas Kosmografi di Undana, Integrasikan Sains dan Kearifan Lokal “Membaca Langit” Masyarakat NTT

Dosen Itera Bahas Kosmografi di Undana, Integrasikan Sains dan Kearifan Lokal “Membaca Langit” Masyarakat NTT

Print Friendly, PDF & Email

ITERA NEWS – Peran Institut Teknologi Sumatera (Itera) dalam pengembangan ilmu kebumian dan antariksa kembali diperkuat melalui kontribusi dosennya di forum akademik nasional. Dosen Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan, Fakultas Sains Itera, Dr. Robiatul Muztaba, S.Si., M.Si., menjadi narasumber dalam kuliah umum di Universitas Nusa Cendana (Undana), Rabu, 22 April 2026.

Kuliah umum bertajuk “Kosmografi dan Pengetahuan Lokal: Membaca Langit dalam Tradisi Masyarakat Nusa Tenggara Timur” itu diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Undana, dalam rangka peringatan Hari Bumi 2026 yang mengusung tema “Our Power, Our Planet”.

Dalam paparannya, Dr. Robiatul menekankan pentingnya mengintegrasikan sains modern dengan kearifan lokal dalam memahami fenomena alam. Ia mencontohkan praktik “membaca langit” yang hidup dalam tradisi masyarakat Nusa Tenggara Timur sebagai bentuk pengetahuan empiris yang terbangun dari pengamatan jangka panjang.

“Pengetahuan lokal tidak dapat dipandang sebagai mitos semata, melainkan sebagai hasil observasi yang sistematis dan memiliki dasar ilmiah,” ujar Dr.Robiatul.

Dr. Robiatul menekankan pentingnya mengintegrasikan sains modern dengan kearifan lokal dalam memahami fenomena alam. Ia mencontohkan praktik “membaca langit” yang hidup dalam tradisi masyarakat Nusa Tenggara Timur sebagai bentuk pengetahuan.

Ia juga menyoroti peluang pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence), untuk mengkaji dan mendokumentasikan pengetahuan lokal secara lebih terstruktur dan kontekstual. Menurutnya, pendekatan ini dapat memperkaya kajian kosmografi sekaligus memperluas relevansi ilmu kebumian dalam menjawab tantangan lingkungan dan perubahan iklim.

Turut hadir sebagai narasumber, Dr. Hakim M. Malasan, M.Sc., dari Institut Teknologi Bandung, yang menjelaskan kosmografi sebagai cabang ilmu yang mempelajari susunan alam semesta beserta fenomena benda langit. Ia menyoroti kekayaan praktik masyarakat Nusa Tenggara Timur dalam memanfaatkan pergerakan bintang dan fase bulan untuk menentukan waktu tanam, pelayaran, hingga pelaksanaan ritual adat.

Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif mahasiswa, mencerminkan tingginya minat terhadap kajian kosmografi dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang akademik untuk mempertemukan perspektif ilmiah dan pengetahuan lokal dalam satu kerangka pembelajaran yang integratif.

Melalui forum ini, Itera menegaskan komitmennya dalam mengembangkan pendidikan berbasis riset yang tidak hanya bertumpu pada sains modern, tetapi juga mengakomodasi kekayaan pengetahuan lokal sebagai bagian dari ekosistem keilmuan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu melahirkan lulusan yang adaptif, kontekstual, serta memiliki kepekaan terhadap isu lingkungan dan budaya. (Rilis Humas FS/ Humas)