You are currently viewing Itera Bersama Pemerintah dan Industri Dorong Hilirisasi Bahan Alam untuk Kemandirian Obat Nasional

Itera Bersama Pemerintah dan Industri Dorong Hilirisasi Bahan Alam untuk Kemandirian Obat Nasional

 

ITERA NEWS – Institut Teknologi Sumatera (Itera) mendorong pengembangan bahan alam Indonesia menjadi produk kesehatan dan obat bernilai tambah tinggi melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, regulator, dan industri farmasi. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian obat nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Upaya tersebut dibahas Rektor Itera Prof. Dr. apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., dalam dua pertemuan strategis di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026. Pertemuan pertama melibatkan Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara Prof. Ir. Sigit Puji Santosa, MSME, Sc.D., IPU., dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Selanjutnya, Rektor Itera bertemu dengan Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, beserta jajaran kementerian dan Direktur Utama Indofarma.

Rektor Itera Prof. Elfahmi menyampaikan, Indonesia memiliki kekayaan bahan alam yang berpotensi menjadi sumber pengembangan produk kesehatan dan obat. Namun, sebagian bahan alam tersebut masih dijual atau diekspor dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah ekonominya belum optimal.

“Selama ini bahan alam di Indonesia dijual atau diekspor dalam bentuk bahan mentah dengan harga yang sangat murah. Dengan teknologi yang dikembangkan, bahan alam kita dapat memiliki nilai tambah tinggi dan diminati oleh negara-negara lain dengan nilai yang tinggi,” ujar Prof. Elfahmi.

Selama ini bahan alam di Indonesia dijual atau diekspor dalam bentuk bahan mentah dengan harga yang sangat murah. Dengan teknologi yang dikembangkan, bahan alam kita dapat memiliki nilai tambah tinggi dan diminati oleh negara-negara lain dengan nilai yang tinggi

Dalam pertemuan dengan CTO BPI Danantara dan Kepala BPOM, pembahasan berfokus pada dukungan regulasi dan pengembangan penelitian untuk mempercepat hilirisasi bahan alam. BPOM mendukung upaya tersebut melalui aspek regulasi dan pembinaan penelitian lanjutan guna menghasilkan produk kesehatan dan obat berbasis bahan alam.

Sementara itu, dalam pertemuan dengan Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi, Elfahmi didampingi CEO PT EBM Saintifik dan Teknologi (EBM Scitech) Dr. Agus Cahyadi. Pertemuan tersebut juga dihadiri Direktur Utama Indofarma sebagai perwakilan industri farmasi.

Kandidat Obat

Salah satu peluang yang dibahas ialah pemanfaatan senyawa murni hasil isolasi bahan alam sebagai bahan baku industri obat. Melalui penelitian lanjutan, senyawa tersebut berpotensi dikembangkan menjadi kandidat obat melalui proses penemuan obat berbasis bahan alam (plant drug discovery).

“Harapannya, kita dapat menghasilkan produk-produk obat yang berasal dari bahan alam, dikerjakan di Indonesia, dan diteliti oleh Indonesia. Selanjutnya, produk tersebut dapat melalui proses perizinan di BPOM dan berpeluang dipasarkan ke seluruh dunia,” ujar Prof. Elfahmi.

Menurut Prof. Elfahmi, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, regulator, dan industri diperlukan agar hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Proses tersebut mencakup penelitian, pengembangan teknologi, pemenuhan persyaratan regulasi, hingga produksi.

Rektor berharap sinergi Itera, Institut Teknologi Bandung (ITB), perguruan tinggi lainnya, pemerintah, BPOM, dan industri farmasi dapat mempercepat pemanfaatan hasil riset untuk mendukung sektor kesehatan nasional. Selain meningkatkan nilai tambah bahan alam, upaya ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian bahan baku obat dan mendorong lahirnya produk berbasis riset Indonesia yang mampu bersaing di pasar global. (Humas)