ITERA NEWS-Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Teknik Biomedis, Institut Teknologi Sumatera (Itera), memperkenalkan Fishometer, alat pendeteksi kesegaran ikan berbasis sensor gas, kepada masyarakat Desa Banjar Agung, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Jumat, 9 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Banjar Agung ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang cara memilih ikan segar sekaligus mengenalkan pemanfaatan teknologi untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.
Kegiatan bertajuk “Penerapan Fishometer untuk Edukasi dan Monitoring Kesegaran Ikan dalam Mendukung Ketahanan Pangan Desa Banjar Agung” tersebut diketuai oleh dosen Program Studi Teknik Biomedis Itera, Retno Maharsi, M.Si., dan melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari program studi yang sama. Kegiatan ini turut dihadiri Sekretaris Desa Banjar Agung, Tri Wibowo, S.E., perangkat desa, Kepala Dusun Banjar Agung, Ketua PKK Desa Banjar Agung, Ernawati, anggota PKK, serta warga setempat.
Dalam sambutannya, Tri Wibowo mengapresiasi inisiatif tim Itera yang memberikan edukasi mengenai kualitas dan keamanan pangan. Ia berharap pengetahuan yang disampaikan dapat diterapkan masyarakat dalam memilih bahan pangan berkualitas untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Sejalan dengan hal tersebut, Retno Maharsi menjelaskan bahwa penerapan teknologi tepat guna dapat membantu masyarakat menilai kesegaran ikan secara lebih objektif. Menurutnya, pengenalan teknologi ini menjadi pelengkap pengetahuan dasar masyarakat dalam memilih dan menangani ikan sebelum dikonsumsi.
Untuk mendukung pemahaman tersebut, tim menghadirkan dua sesi edukasi. Rosita Wati, S.Pd., M.Sc., memperkenalkan bidang Teknik Biomedis, sedangkan Nurul Maulidiyah, S.Si., M.Sc., menyampaikan materi mengenai pentingnya memilih ikan segar. Dalam sesi ini, peserta mempelajari sejumlah ciri fisik ikan segar, seperti kondisi mata, warna insang, elastisitas tubuh, dan kondisi sisik.
Selain mengenali ciri fisik, peserta juga diperkenalkan pada penggunaan teknologi sensor sebagai pendekatan pendukung untuk menilai perubahan kualitas ikan. Hal ini penting karena penilaian berdasarkan tampilan fisik dan penciuman dapat dipengaruhi oleh subjektivitas.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan ialah Fishometer, prototipe alat pendeteksi kesegaran ikan yang memanfaatkan sensor gas untuk mendeteksi amonia (NH₃). Senyawa tersebut dapat terbentuk selama proses penguraian protein ikan sehingga keberadaannya dapat menjadi salah satu indikator perubahan kesegaran. Tim juga memperkenalkan biosensor berbentuk strip berbasis antosianin yang mengalami perubahan warna sebagai indikator tingkat kesegaran ikan.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan ialah Fishometer, prototipe alat pendeteksi kesegaran ikan yang memanfaatkan sensor gas untuk mendeteksi amonia (NH₃). Senyawa tersebut dapat terbentuk selama proses penguraian protein ikan sehingga keberadaannya dapat menjadi salah satu indikator perubahan kesegaran. Tim juga memperkenalkan biosensor berbentuk strip berbasis antosianin yang mengalami perubahan warna sebagai indikator tingkat kesegaran ikan.
Penjelasan tersebut dilanjutkan dengan demonstrasi penggunaan prototipe Fishometer dan strip indikator pada sampel ikan. Melalui praktik langsung ini, warga dan anggota PKK dapat melihat cara kerja teknologi yang diperkenalkan. Sesi kemudian ditutup dengan diskusi interaktif mengenai penggunaan alat dan cara menyimpan ikan dengan baik di rumah tangga.
Melalui rangkaian edukasi dan demonstrasi tersebut, tim PkM Teknik Biomedis Itera berharap masyarakat semakin memahami cara memilih ikan segar serta menjaga kualitasnya sebelum dikonsumsi. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana untuk mengenalkan penerapan hasil pengembangan teknologi kampus dalam kehidupan sehari-hari, khususnya untuk mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keamanan pangan. (Rilis/Humas)
