You are currently viewing Mahasiswa Rekayasa Kehutanan Itera Didorong Berperan dalam Pencegahan Karhutla

Mahasiswa Rekayasa Kehutanan Itera Didorong Berperan dalam Pencegahan Karhutla

ITERA NEWS – Mahasiswa Program Studi Rekayasa Kehutanan, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Institut Teknologi Sumatera (Itera), didorong mengambil peran dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pemanfaatan pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi dengan masyarakat. Dorongan tersebut disampaikan dalam kuliah umum dan kampanye pencegahan karhutla bertajuk “Peran Generasi Muda dalam Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan” yang digelar Program Studi Rekayasa Kehutanan FTI Itera bersama Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Kementerian Kehutanan, di Aula C Itera, Rabu, 16 September 2026.

Dosen Rekayasa Kehutanan Itera, Agung Yoga Pangestu, S.Hut., M.Sc., memaparkan hasil sintesis 156 jurnal ilmiah bereputasi Scopus periode 2010–2023 mengenai penyebab, sebaran geografis, dan efektivitas pengelolaan karhutla di Indonesia. Kajian tersebut menunjukkan konsentrasi titik api pada lanskap gambut di Sumatera dan Kalimantan, dengan aktivitas manusia sebagai salah satu faktor dominan yang diperparah anomali iklim, seperti El Niño. Menurut Agung, kondisi tersebut menunjukkan perlunya strategi pengelolaan karhutla yang lebih terintegrasi dan adaptif. Strategi itu mencakup pemanfaatan teknologi, penguatan kelembagaan, serta pelibatan pengetahuan dan masyarakat lokal dalam upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran.

Sementara itu, Koordinator Perencana Seksi Wilayah III Balai Pengendalian Kebakaran Hutan/Manggala Agni Wilayah Sumatera, M. Emron Funaka, S.Hut., menjelaskan tahapan pengendalian karhutla, mulai dari pencegahan, pemadaman, hingga penanganan pascakebakaran. Pada tahap pencegahan, upaya dilakukan antara lain melalui patroli dan kampanye. Adapun dalam pemadaman, deteksi dini dan pengecekan lapangan terhadap titik panas (hotspot) menjadi bagian penting untuk memastikan potensi kebakaran. Emron juga memaparkan data luas karhutla di Sumatera periode 2019–2025 serta kondisi kabut asap per 15 September 2026. Informasi tersebut menjadi gambaran mengenai dampak karhutla yang dapat meluas hingga lintas negara.

Kajian menunjukkan konsentrasi titik api pada lanskap gambut di Sumatera dan Kalimantan, dengan aktivitas manusia sebagai salah satu faktor dominan yang diperparah anomali iklim, seperti El Niño

Selain kuliah umum, kegiatan diisi kampanye pencegahan karhutla oleh Koordinator Pencegahan Dalkarhut Seksi Wilayah III Balai Pengendalian Kebakaran Hutan/Manggala Agni Wilayah Sumatera, Putri Laila Komari, S.Hut., dan Adi Nofriyansah. Keduanya memperkenalkan pemanfaatan data titik panas dan titik api sebagai bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla. Data tersebut dapat diakses melalui sejumlah platform resmi, antara lain SiPongi+ Kementerian Kehutanan, Citra Polar Hotspot BMKG, NASA FIRMS (Fire Information for Resource Management System), dan Global Forest Watch (GFW) Fire.

Dalam sesi tersebut, mahasiswa juga diajak memahami bahwa aktivitas manusia, khususnya pembukaan lahan dengan cara membakar, menjadi salah satu faktor utama terjadinya karhutla. Risiko tersebut dapat meningkat ketika terjadi anomali iklim, seperti El Niño, dan musim kemarau berkepanjangan.

Koordinator Program Studi Rekayasa Kehutanan FTI Itera, Khoryfatul Munawaroh, S.Hut., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap pencegahan karhutla. Sementara Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan FTI Itera, Dr. Ir. Sena Maulana, S.Hut., M.Si., juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menghadapi persoalan lingkungan.

Mahasiswa Rekayasa Kehutanan, menurut dia, perlu memiliki wawasan mitigasi karhutla dan mampu menerjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam aksi yang memberikan dampak bagi masyarakat. Upaya pencegahan karhutla juga dapat dikembangkan melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, baik pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. Pengetahuan dan hasil riset dapat menjadi dasar untuk memperkuat aksi pencegahan di lapangan. (Rilis Humas RH)