You are currently viewing Itera Kembangkan Alat Ukur Kadar Pati Singkong untuk Petani Lampung Timur

Itera Kembangkan Alat Ukur Kadar Pati Singkong untuk Petani Lampung Timur

ITERA NEWS — Dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengembangkan SmartCassava, alat ukur kadar pati singkong berbasis instrumentasi untuk membantu petani mengetahui mutu hasil panen secara lebih objektif. Teknologi tepat guna tersebut diperkenalkan kepada Kelompok Tani Wong Kito 1 di Desa Sindang Anom, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur.

Kegiatan melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa Program Studi Rekayasa Instrumentasi dan Automasi Itera melalui program KKN Rekognisi. Sebanyak 16 anggota kelompok tani mengikuti sosialisasi, demonstrasi, dan praktik pengukuran menggunakan sampel singkong hasil panen.

SmartCassava dikembangkan menggunakan load cell berkapasitas 100 kilogram dan mikrokontroler ESP32. Alat mengukur kadar pati melalui metode densitas Archimedes, yakni membandingkan berat singkong di udara dan di dalam air. Hasil pengukuran kemudian diproses sistem dan ditampilkan melalui layar LCD.

Ketua Tim PkM, Yusuf Affandi, S.Pd., M.Sc., mengatakan teknologi tersebut dikembangkan berdasarkan kebutuhan petani yang selama ini belum memiliki alat praktis untuk mengetahui kadar pati singkong secara langsung. “Selama ini petani belum memiliki alat yang praktis untuk mengetahui kadar pati singkong secara langsung. Melalui SmartCassava, kami ingin memberikan informasi mutu yang dapat digunakan petani sebagai data pembanding dalam proses penjualan hasil panen,” ujar Yusuf.

Selama ini petani belum memiliki alat yang praktis untuk mengetahui kadar pati singkong secara langsung. Melalui SmartCassava, kami ingin memberikan informasi mutu yang dapat digunakan petani sebagai data pembanding dalam proses penjualan hasil panen

Dalam kegiatan tersebut, tim juga memberikan pemahaman mengenai mutu dan potensi singkong Lampung. Petani kemudian mencoba menggunakan SmartCassava dengan didampingi tim dan mahasiswa KKN Rekognisi.

Ketua Kelompok Tani Wong Kito 1, Sunartoyo, mengatakan alat tersebut memberikan pengetahuan baru bagi petani mengenai kadar pati singkong. “Dengan adanya alat ini, kami bisa mengetahui kadar aci singkong sendiri. Kalau hasil pemeriksaan di pabrik berbeda, kami setidaknya mempunyai data untuk menjadi bahan pembanding,” ujar Sunartoyo.

Tim PkM yang terdiri atas Yusuf Affandi, S.Pd., M.Sc., Sabar, M.Si., dan Rizki Yustisia Sari, M.T.I., berharap pengembangan SmartCassava dapat menjadi langkah awal pemanfaatan teknologi instrumentasi di sektor pertanian.

Ke depan, teknologi tersebut berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung pengolahan singkong menjadi tepung mocaf serta teknologi pengeringan. Pengembangan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan mutu sekaligus nilai tambah komoditas singkong yang menjadi salah satu hasil pertanian penting di Lampung. (Rilis/Humas)