ITERA NEWS – Institut Teknologi Sumatera (Itera) dan Pemerintah Kabupaten Pringsewu melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapperida) menjajaki kolaborasi riset dan teknologi untuk mengembangkan Kabupaten Pringsewu sebagai sentra produksi modified cassava flour (mocaf). Kolaborasi tersebut dibahas dalam pertemuan dan kunjungan lapangan yang berlangsung di Kantor Bapperida Kabupaten Pringsewu dan Sentra Mocaf Koperasi Cokroaminoto, pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Itera, Ir. Arif Rohman, S.T., M.T., Ph.D., bersama Sekretaris Bapperida Kabupaten Pringsewu, Siti Rahma, S.I.Kom., M.M. Diskusi membahas peluang kolaborasi riset, penerapan teknologi produksi, serta hilirisasi produk berbasis singkong, khususnya mocaf.
Arif Rohman menyampaikan bahwa Itera siap mendukung pengembangan mocaf di Kabupaten Pringsewu melalui pendampingan riset dan penerapan teknologi. Dukungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mendorong terwujudnya Pringsewu sebagai sentra mocaf.
“Itera siap mendukung pengembangan mocaf di Kabupaten Pringsewu melalui riset, teknologi, dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Kami berharap kolaborasi ini dapat memberikan nilai tambah bagi produk singkong sekaligus memberikan dampak bagi masyarakat,” ujar Arif.
Dalam kunjungan lapangan, tim Itera meninjau langsung proses produksi mocaf di Koperasi Cokroaminoto. Tim mengamati tahapan produksi mulai dari pengupasan singkong hingga pengemasan produk akhir. Berdasarkan hasil peninjauan tersebut, tim Itera diminta melakukan identifikasi terhadap proses produksi mocaf serta mengkaji peluang peningkatan kapasitas produksi melalui penerapan teknologi yang lebih efisien.
Bapperida Kabupaten Pringsewu juga mendorong Itera untuk mendukung proses hilirisasi produk turunan mocaf sehingga dapat menghasilkan produk bernilai tambah dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat Pringsewu.
Ketua Koperasi Cokroaminoto, Nurdian, mengatakan masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan dan hilirisasi produk mocaf. Salah satunya terdapat pada produk tepung premiks ayam yang masih menghadapi kendala formulasi karena bahan premiks belum dapat menempel secara optimal pada bahan olahan ayam.
“Kami berharap ada formulasi baru yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Selain itu, kami juga membutuhkan dukungan dalam standardisasi proses produksi dan pengolahan limbah hasil produksi mocaf,” ujar Nurdian.
Kolaborasi Itera dan Pemerintah Kabupaten Pringsewu diharapkan dapat menghasilkan penerapan teknologi produksi yang lebih efisien, meningkatkan nilai tambah singkong lokal, serta mengembangkan produk turunan mocaf yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Selain itu, pengembangan teknologi pengolahan limbah diharapkan dapat mendukung terciptanya ekosistem industri mocaf yang berkelanjutan. Kolaborasi ini menjadi langkah awal dalam mengintegrasikan riset, teknologi, dan potensi sumber daya lokal untuk mendorong pengembangan industri berbasis singkong di Kabupaten Pringsewu. (Rilis/Humas)
