Empat Mahasiswa Arsitektur Itera Terpilih Ikuti Konferensi Internasional AILCD di Jepang

Empat Mahasiswa Arsitektur Itera Terpilih Ikuti Konferensi Internasional AILCD di Jepang

Print Friendly, PDF & Email

ITERA NEWS — Empat mahasiswa Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Sumatera (Itera) terpilih mengikuti Workshop and International Conference AILCD 2026 yang digelar di Kitakyushu, Fukuoka, Jepang, pada 23 Februari–10 Maret 2026. Mereka adalah Khoirul Akmal, Riri Novalia Azzahra, Rafiq Faras Maliku, dan Indah Wulandari.

Keikutsertaan keempat mahasiswa tersebut melalui proses seleksi dan administrasi yang panjang serta ketat. Proses itu bermula dari undangan resmi yang diterima Program Studi Arsitektur Itera untuk berpartisipasi dalam Workshop AILCD 2026. Salah satu penilai peserta dari Itera adalah Profesor Bart Dewancker, dosen di Universitas Kitakyushu.

Sebagai persyaratan, setiap calon peserta diwajibkan mengirimkan portofolio terbaik, sertifikat kemampuan bahasa asing, serta transkrip akademik melalui formulir daring yang telah disediakan panitia.

Indah Wulandari mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya setelah menerima Letter of Invitation pada 30 Oktober 2025. Surat undangan tersebut disampaikan melalui dosen pembimbing mereka, Dr. Eng. Ir. Ar. Rendy Perdana Khidmat, S.Pd., M.Eng. “Rasanya campur aduk, seperti tidak percaya dan sangat bersyukur,” ujar Indah.

Selama workshop, para mahasiswa Itera tergabung dalam kelompok diskusi internasional bersama peserta dari berbagai negara, seperti Filipina, Thailand, China, dan Vietnam.

Dalam konferensi dan workshop internasional tersebut, tim Itera mempresentasikan gagasan desain dengan tema besar “Arsitektur Berkelanjutan dengan Penerapan Prinsip Low Carbon Energy.” Setiap anggota tim mengangkat topik yang berbeda sesuai minat dan riset masing-masing. Khoirul Akmal mengusung isu biogas system dalam perancangan konservasi gajah di Way Kambas, yang memadukan konsep arsitektur hijau dengan pelestarian satwa liar berbasis energi terbarukan.

Riri Novalia Azzahra berfokus pada low carbon design dengan mengeksplorasi upaya meminimalkan jejak karbon sejak tahap perencanaan desain. Sementara itu, Indah Wulandari dan Rafiq Faras Maliku mengangkat isu kenyamanan termal pada bangunan kampus, dengan studi kasus sejumlah gedung di lingkungan Itera.

Selama workshop, para mahasiswa Itera tergabung dalam kelompok diskusi internasional bersama peserta dari berbagai negara, seperti Filipina, Thailand, China, dan Vietnam. “Di sinilah kemampuan kami diuji. Kami tidak hanya dituntut berpikir kritis dalam merancang desain, tetapi juga mampu berkomunikasi, bersosialisasi, dan berargumen menggunakan bahasa asing,” kata Indah.

Interaksi lintas negara tersebut memperkaya wawasan mereka terhadap beragam pendekatan desain arsitektur dan perspektif keilmuan.
“Kami tidak hanya belajar tentang desain, tetapi juga belajar berkolaborasi dengan teman-teman dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda. Ini pengalaman yang sangat berharga,” ujarnya.

(Humas/Rudiyansyah)