ITERA NEWS – Pada tahun ini Institut Teknologi Sumatera (Itera) menerima 5.832 mahasiswa baru dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Diantara ribuan mahasiswa tersebut, Raymondo Cicilio Komoyap menjadi mahasiswa terjauh yang berasal dari Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Sementara Muhammad Adib Zuhdi tercatat sebagai mahasiswa termuda dengan usia 16 tahun 6 bulan 25 hari, pada saat dikukuhkan sebagai mahasiswa Itera.
Raymondo merupakan mahasiswa baru dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) yang berasal dari Papua Selatan. Ia diterima melalui jalur Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik), yaitu program beasiswa afirmasi bagi mahasiswa yang berasal dari daerah tertentu, termasuk Papua.
Jarak yang jauh dari daerah asal tidak menyurutkan semangatnya untuk menempuh pendidikan di Itera. Ia memilih Itera karena melihat peluang masuk yang terbuka sekaligus ingin menambah jumlah mahasiswa asal Papua yang menempuh pendidikan perguruan tinggi di wilayah Sumatera. “Selain itu, fasilitas yang lengkap, lingkungan kampus yang nyaman, dan dukungan dari keluarga menjadi alasan saya memilih Itera,” ujar Raymondo.
Jarak yang jauh dari daerah asal tidak menyurutkan semangat Raymondo untuk menempuh pendidikan di Itera. Ia memilih Itera karena melihat peluang masuk yang terbuka sekaligus ingin menambah jumlah mahasiswa asal Papua yang menempuh pendidikan perguruan tinggi di wilayah Sumatera.
Ia memilih Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota karena memiliki ketertarikan dalam menggambar dan perencanaan. Kedepannya, ia berharap dapat menggunakan ilmu yang diperolehnya untuk membangun perkotaan di Papua.
Cerita lainnya datang dari Muhammad Adib Zuhdi mahasiswa baru dari Program Studi Rekayasa Minyak dan Gas, yang ditetapkan sebagai mahasiswa termuda. Ia diterima di Itera melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Adib menyampaikan ia dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di usia muda setelah mengikuti program akselerasi di sekolahnya yakni Madrasah Aliyah Negeri Tiga Kota Palembang. Sebelum mengikuti program tersebut, siswa menjalani psikotes dan tahap seleksi, Adib kemudian menjadi salah satu dari 24 siswa yang mengikuti kelas akselerasi hingga menyelesaikan pendidikan. “Saya memilih Itera karena termotivasi oleh kakak kelas saya yang saat ini berada di prodi yang sama, dan saya juga mendapat dukungan dari keluarga untuk berkuliah di Itera,” ujar Adib.
Selain pertimbangan tersebut, Adib memilih Itera karena memiliki ketertarikan terhadap bidang energi dan ingin mempelajari sistem energi sekaligus berkontribusi terhadap pengembangan energi di Indonesia.
Tim Liputan
Penulis: Sakira Aurel Aszahra

