ITERA NEWS – Kepala Unit Penunjang Akademik Konservasi Flora Sumatera (Kebun Raya) Institut Teknologi Sumatera (Itera), Alawiyah, S.P., M.Hut., mewakili Indonesia dalam Botanical Garden Development and Management Training Course yang diselenggarakan di Shanghai Chenshan Botanical Garden, Tiongkok, pada 28 Juni–12 Juli 2026. Program yang digelar oleh International Association of Botanic Gardens (IABG) bekerja sama dengan Shanghai Chenshan Botanical Garden dan didukung Shanghai Landscaping and City Appearance Administrative Bureau tersebut diikuti 15 peserta dari 11 negara sebagai ajang penguatan kapasitas dan jejaring internasional di bidang konservasi tumbuhan.
Selama dua pekan, peserta memperoleh materi dari praktisi dan peneliti internasional mengenai strategi pengembangan kebun raya di tengah perubahan global, pengelolaan koleksi tumbuhan, teknologi berbasis tanaman untuk lingkungan, hingga pengelolaan herbarium dan bank biji sebagai upaya konservasi spesies langka. Kegiatan juga dilengkapi praktik lapangan, mulai dari pembuatan spesimen herbarium hingga perancangan lanskap kebun raya.
Selain pembelajaran di kelas, peserta mengikuti kunjungan ke berbagai fasilitas unggulan Shanghai Chenshan Botanical Garden, seperti area pembibitan, karantina tumbuhan, taman tematik, konservatorium, perpustakaan, bank biji, dan herbarium. Rangkaian kegiatan juga mencakup kunjungan ke Shanghai Natural History Museum, Shanghai EXPO Culture Park, dan Shanghai Botanical Garden untuk mempelajari keterkaitan konservasi tumbuhan dengan budaya serta pengelolaan ruang terbuka hijau yang berorientasi pada edukasi masyarakat.
Dalam sesi International Ethnobotany Exchange, Alawiyah memperkenalkan Kebun Raya Itera sekaligus memaparkan kekayaan flora Sumatera serta pemanfaatan tumbuhan dalam budaya Indonesia. Presentasi tersebut menjadi bagian dari diplomasi ilmiah dan budaya yang memperkuat posisi Indonesia dalam jejaring konservasi tumbuhan tingkat internasional.
Dalam sesi International Ethnobotany Exchange, Alawiyah memperkenalkan Kebun Raya Itera sekaligus memaparkan kekayaan flora Sumatera serta pemanfaatan tumbuhan dalam budaya Indonesia. Presentasi tersebut menjadi bagian dari diplomasi ilmiah dan budaya yang memperkuat posisi Indonesia dalam jejaring konservasi tumbuhan tingkat internasional. “Pelatihan ini memberikan banyak inspirasi mengenai bagaimana fasilitas konservasi modern dan layanan publik berbasis edukasi dapat menjadi acuan dalam pengembangan Kebun Raya Itera,” ujar Alawiyah.
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas teknis di bidang hortikultura, konservasi, dan layanan pengunjung, tetapi juga membuka peluang kolaborasi riset dengan pengelola kebun raya dari berbagai negara.
Pengembangan Kebun Raya
Menurut Alawiyah, pengalaman tersebut sangat relevan dengan pengembangan Kebun Raya Itera yang saat ini baru terealisasi sekitar 25 persen dari masterplan. Pengetahuan yang diperoleh akan menjadi referensi dalam penyempurnaan konsep pengembangan kebun raya, terutama pada aspek penataan lanskap, pengelolaan koleksi, serta peningkatan fungsi edukasi dan pelayanan publik.
Ia menambahkan, pengelolaan kebun raya harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Karena itu, setiap strategi pengembangan perlu berorientasi pada society needed, sehingga kebun raya tidak hanya berfungsi sebagai pusat konservasi, tetapi juga memberikan manfaat nyata melalui pendidikan, penelitian, rekreasi edukatif, dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Ke depan, Alawiyah berharap berbagai pengetahuan yang diperoleh dapat segera diimplementasikan secara bertahap sesuai kondisi anggaran. Langkah awal yang akan dilakukan meliputi penataan lanskap Kebun Raya Itera agar lebih tertata dan representatif, sekaligus menyelaraskan pengembangan masterplan dengan praktik terbaik yang diperoleh selama pelatihan.
Partisipasi Kepala Kebun Raya Itera dalam forum internasional ini sejalan dengan komitmen Itera sebagai kampus berdampak yang terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia, memperluas jejaring global, serta menghadirkan inovasi pengelolaan konservasi yang memberikan manfaat bagi pendidikan, penelitian, dan masyarakat. (Rilis/Humas)




