Tim Dosen dan Mahasiswa Itera Susun Peta Potensi Banjir Desa di Tanggamus

Tim Dosen dan Mahasiswa Itera Susun Peta Potensi Banjir Desa di Tanggamus

Print Friendly, PDF & Email

ITERA NEWS — Tim dosen dan mahasiswa dari Program Studi Pariwisata serta Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu (TKA) Institut Teknologi Sumatera (Itera) menyusun peta potensi banjir di Desa Bandar Kejadian, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Penyusunan peta tersebut dilakukan untuk mendukung sistem informasi desa yang dapat digunakan dalam perencanaan pembangunan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana banjir.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh belum tersedianya peta administrasi desa, peta potensi banjir, serta peta fasilitas sosial dan fasilitas umum yang terintegrasi di Desa Bandar Kejadian. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan pemerintah desa dalam menyusun perencanaan pembangunan maupun merespons potensi bencana secara cepat dan terkoordinasi.

Dalam pelaksanaannya, tim melakukan survei lapangan, pengolahan data berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS), serta penyusunan peta dalam bentuk digital dan cetak. Dari kegiatan tersebut dihasilkan dua peta utama, yaitu peta potensi kerawanan banjir dan peta persebaran fasilitas sosial serta fasilitas umum. Kedua peta tersebut memiliki tingkat akurasi sekitar 95 persen berdasarkan hasil verifikasi lapangan (ground truthing). Peta yang telah disusun kemudian dicetak berukuran 1 meter × 1 meter dan diserahkan kepada pemerintah desa sebagai media informasi sekaligus alat bantu dalam pengambilan keputusan.

Peta rawan banjir ini diharapkan dapat membantu meningkatkan koordinasi antarperangkat desa dan mempercepat respons terhadap potensi banjir, terutama saat memasuki musim hujan

Ketua kegiatan yang juga dosen Program Studi Pariwisata Itera, Putry Agung, M.Pd., mengatakan, keberadaan sistem informasi spasial yang terintegrasi diharapkan dapat memudahkan aparatur desa dalam mengakses data secara cepat untuk mendukung perencanaan pembangunan.

“Dengan sistem informasi spasial yang terintegrasi, aparatur desa diharapkan mampu memanfaatkan data secara lebih cepat dan akurat. Dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan kualitas tata kelola desa melalui pengambilan keputusan berbasis data,” ujar Putry.

Sementara itu, dosen Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu Itera, Selma Nurul Fauziah, S.Si., M.T., menambahkan bahwa peta kerawanan banjir juga dapat memperkuat koordinasi antar-lembaga di tingkat desa. “Peta rawan banjir ini diharapkan dapat membantu meningkatkan koordinasi antarperangkat desa dan mempercepat respons terhadap potensi banjir, terutama saat memasuki musim hujan,” kata Selma. (Rilis/Humas)