Gagas Kota Terapung, Mahasiswa Itera Juara Internasional Desain Kota Rendah Karbon Asia

Gagas Kota Terapung, Mahasiswa Itera Juara Internasional Desain Kota Rendah Karbon Asia

Print Friendly, PDF & Email

ITERA NEWS – Dua mahasiswa Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Sumatera (Itera), Wahyu Sony Ardiyansah dan Muhammad Choir, meraih juara pertama dalam The International Student Design Competition on Low Carbon Cities in Asia yang diselenggarakan Asian Institute of Low Carbon Design (AILCD) yang berkedudukan di Kitakyushu, Jepang. Dalam kompetisi tersebut, mereka bersaing dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di sejumlah negara. Tim Itera berhasil mengungguli tim dari Zhejiang University, Tiongkok yang meraih posisi juara dua dan tiga.

Kemenangan tersebut diraih melalui gagasan berjudul “Anti Deco: A City That Exists in Time, Not in Space”, yang menawarkan konsep kota terapung adaptif sebagai respons terhadap krisis iklim dan kenaikan muka air laut. Dalam kompetisi itu, peserta diminta merancang proyeksi Kota Kitakyushu, Jepang, 100 tahun mendatang dengan pendekatan kota rendah karbon.

Wahyu menjelaskan, timnya mengkaji data perubahan iklim dan proyeksi kenaikan permukaan laut, lalu mengembangkan skenario ekstrem namun relevan untuk tahun 2125. “Kami membayangkan kondisi ketika kota tidak lagi bisa bergantung pada daratan yang stabil. Dari situ lahir gagasan kota terapung yang adaptif,” ujarnya.

Konsep yang ditawarkan berupa sistem urban modular yang dapat bergerak menyesuaikan kondisi lingkungan, naik ke permukaan saat situasi stabil dan turun ke lapisan laut yang lebih aman ketika terjadi gangguan. Menurut Wahyu, kota masa depan tidak lagi dirancang untuk melawan perubahan, melainkan hidup berdampingan dengan ketidakpastian.

Kemenangan tersebut diraih melalui gagasan berjudul “Anti Deco: A City That Exists in Time, Not in Space”, yang menawarkan konsep kota terapung adaptif sebagai respons terhadap krisis iklim dan kenaikan muka air laut.

Sementara Muhammad Choir menambahkan, proyek tersebut tidak sekadar membayangkan bentuk fisik kota, tetapi menggeser cara pandang terhadap arsitektur sebagai entitas yang dinamis. “Arsitektur bukan lagi sesuatu yang statis, melainkan sistem yang hidup dan bergerak dalam waktu,” kata Choir.

Ia menilai gagasan tersebut juga relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang menghadapi ancaman kenaikan muka air laut, penurunan tanah di kawasan pesisir, dan dampak perubahan iklim. Penerapannya, kata dia, tidak harus dalam bentuk kota terapung skala besar, tetapi dapat dimulai melalui infrastruktur pesisir yang fleksibel, hunian terapung di wilayah rawan banjir, hingga pemanfaatan energi laut sebagai sumber energi alternatif.

Meski telah berhasil meraih juara, Wahyu dan Choir sepakat dalm mendesain, yang terpenting bukan menyalin bentuk desain, melainkan mengadopsi cara berpikir adaptif dan jangka panjang dalam merancang kota. Pendekatan tersebut dinilai krusial agar kota-kota di Indonesia lebih siap menghadapi ketidakpastian masa depan.

Keberhasilan ini juga diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berpartisipasi dalam kompetisi internasional dan membawa nama kampus ke tingkat global. Mereka juga berharap kampus terus mendorong mahasiswa berpikir kritis dan berani mengeksplorasi gagasan spekulatif yang relevan dengan tantangan masa depan, khususnya isu keberlanjutan dan ketahanan kota.

Selain meraih juara pertama, lima tim mahasiswa dari Itera lainnya juga berhasil memperoleh penghargaan Honorable Mentions dalam kompetisi tersebut. Mereka adalah Muhammad Hawari Sajidullah dan Adli Shiedieq Hanif Ibrahim, Muhammad Rasyid dan Athala Vipari, Saba dan M. Dwiki Darmawan, Rafiq Faras Maliku dan Nyayu Ananda Qhattammahira Khairunisya, serta Khoirul Akmal, Indah Wulandari, dan Savira Amelia.  (Humas/Rudiyansyah)