You are currently viewing FTIK Itera Bahas Prediksi Banjir melalui Pemodelan Tutupan Lahan

FTIK Itera Bahas Prediksi Banjir melalui Pemodelan Tutupan Lahan

 

ITERA NEWS-Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan (FTIK) Institut Teknologi Sumatera (Itera) menggelar Seminar Keprofesian bertajuk “Model Perubahan Penggunaan Lahan dan Tutupan Lahan untuk Memprediksi Bencana Banjir” di Aula Gedung E Itera, Senin, 12 Oktober 2026. Seminar ini membahas pemanfaatan pemodelan spasial untuk memprediksi potensi banjir serta mengidentifikasi dampak perubahan tutupan lahan terhadap risiko bencana dan kerugian ekonomi.

Seminar ini menghadirkan Dr. Triyatno, M.Sc., dosen Universitas Negeri Padang (UNP) yang memiliki keahlian di bidang morfodisaster, sebagai narasumber. Sementara itu, Agel Vidian Krama, S.Pd., M.Si., dosen Program Studi Teknik Geomatika Itera, bertindak sebagai moderator. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Teknik Geomatika Itera, mahasiswa Program Studi Geografi UNP, dan peserta umum.

Dalam pemaparannya, Triyatno menjelaskan pemodelan perubahan tutupan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tarusan untuk periode 2019–2039. Pemodelan tersebut mengintegrasikan data citra Landsat, data topografi berupa Digital Elevation Model (DEM), dinamika hidrologi, serta faktor kependudukan dan ekonomi. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat akurasi pemodelan bahaya banjir mencapai 93,98%.

Proyeksi pemodelan menunjukkan bahwa luas area dengan tingkat bahaya banjir tinggi di DAS Tarusan meningkat dari 92,83 hektare pada 2019 menjadi 416,74 hektare pada 2029 dan diperkirakan mencapai 659,32 hektare pada 2039. Peningkatan tersebut berkaitan dengan perubahan tutupan lahan, termasuk deforestasi dan konversi hutan menjadi kawasan terbangun, yang dapat meningkatkan risiko banjir.

Proyeksi pemodelan menunjukkan bahwa luas area dengan tingkat bahaya banjir tinggi di DAS Tarusan meningkat dari 92,83 hektare pada 2019 menjadi 416,74 hektare pada 2029 dan diperkirakan mencapai 659,32 hektare pada 2039. Peningkatan tersebut berkaitan dengan perubahan tutupan lahan, termasuk deforestasi dan konversi hutan menjadi kawasan terbangun, yang dapat meningkatkan risiko banjir.

Perubahan tutupan lahan tersebut juga diproyeksikan meningkatkan kerugian ekonomi pada sektor bangunan dan permukiman. Nilai kerugian diperkirakan meningkat dari Rp88,6 miliar pada 2019 menjadi Rp252,4 miliar pada 2039 atau sekitar 2,85 kali lipat.

DAS Tarusan memiliki waktu menuju puncak banjir (time to peak) sekitar tiga jam. Oleh karena itu, hasil pemodelan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sistem peringatan dini berbasis kondisi alam (natural early warning system). Informasi ini diharapkan dapat membantu pemangku kepentingan mengantisipasi potensi banjir dan merencanakan langkah mitigasi berdasarkan data spasial.

Seminar ini juga merekomendasikan agar hasil proyeksi dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan, termasuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sebagai bahan pertimbangan dalam peninjauan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Selain itu, perlindungan hutan sekunder di kawasan dengan fungsi hidrologis kritis perlu diperkuat untuk menekan risiko banjir, mencegah kerusakan lingkungan, dan mengurangi potensi kerugian ekonomi.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, FTIK Itera dan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang melaksanakan penandatanganan kerja sama untuk memperkuat kolaborasi kedua institusi dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan ilmu geografi dan geomatika. (Rilis/Humas)