ITERA NEWS — Dosen Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Sumatera (Itera) memperkenalkan teknologi pirolisis kepada siswa SMKN Unggul Terpadu Anak Tuha, Lampung Tengah, Lampung, sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar.
Pengenalan teknologi tersebut dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan di SMKN Unggul Terpadu Anak Tuha, Rabu, 7 Oktober 2026. Dalam kegiatan itu, tim dosen Itera menyerahkan alat pirolisis sampah plastik skala laboratorium serta modul praktikum sebagai media pembelajaran bagi siswa Jurusan Teknik Energi Biomassa.
Ketua tim PkM, Ir. Rifqi Sufra, S.T., M.T., mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi persoalan sampah plastik di lingkungan sekolah serta keterbatasan sarana praktikum yang dapat menghubungkan pembelajaran dengan persoalan lingkungan dan energi terbarukan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan teknologi pirolisis kepada siswa sebagai salah satu alternatif dalam mengolah limbah, khususnya limbah plastik,” ujar anggota tim PkM Teknik Kimia Itera, Muhammad Daffa Ramadhan.
Pirolisis merupakan proses penguraian material dengan pemanasan pada kondisi minim atau tanpa oksigen. Dalam pengolahan plastik, proses tersebut dapat menghasilkan produk berupa bahan bakar cair dan produk samping lainnya. Untuk mendukung pembelajaran, tim PkM merancang alat pirolisis berukuran kecil yang dapat digunakan sebagai sarana praktikum. Alat tersebut dirancang untuk mengintegrasikan pembelajaran mengenai pengolahan limbah, konversi energi, dan rekayasa alat.
Untuk mendukung pembelajaran, tim PkM merancang alat pirolisis berukuran kecil yang dapat digunakan sebagai sarana praktikum. Alat tersebut dirancang untuk mengintegrasikan pembelajaran mengenai pengolahan limbah, konversi energi, dan rekayasa alat.
Selain alat, tim juga menyusun modul praktikum yang disesuaikan dengan pembelajaran di sekolah. Modul tersebut dilengkapi lembar kerja siswa dan instrumen evaluasi sehingga guru dan siswa memiliki panduan dalam melaksanakan praktikum. Anggota tim PkM, Qalilul Rahman, mengatakan pembelajaran melalui praktikum diharapkan membuat siswa tidak hanya memahami konsep pirolisis secara teori, tetapi juga melihat secara langsung penerapannya dalam pengolahan sampah plastik.
“Melalui pembelajaran berbasis modul praktikum, siswa tidak hanya memahami konsep dan tahapan proses pirolisis, tetapi juga dapat melihat secara langsung penerapannya dalam mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai guna,” ujar Qalilul.
Kepala SMKN Unggul Terpadu Anak Tuha, Wihan Afriono, S.T., M.Pd., mengapresiasi pendampingan dan edukasi yang diberikan tim dosen Itera bersama mahasiswa. Menurut dia, alat pirolisis dan modul praktikum yang diberikan dapat memperkaya sarana pembelajaran di sekolah.
“Dengan adanya kegiatan ini, siswa dapat memahami bahwa limbah plastik yang selama ini menjadi permasalahan lingkungan dapat dipelajari dan diolah melalui teknologi tepat guna menjadi produk yang lebih bermanfaat,” ujar Wihan.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran terapan bagi siswa sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi sederhana dalam pengelolaan sampah plastik di lingkungan sekolah. (Rilis/Humas)
