You are currently viewing Turut Serta dalam Pemantauan Langsung Kondisi GAK, Akademisi Itera Dorong Mitigasi Berbasis Data

Turut Serta dalam Pemantauan Langsung Kondisi GAK, Akademisi Itera Dorong Mitigasi Berbasis Data

ITERA NEWS — Akademisi Institut Teknologi Sumatera (Itera) turut memantau kondisi Gunung Anak Krakatau (GAK) dari perairan Selat Sunda bersama TNI Angkatan Laut (TNI AL) dan unsur pemerintah daerah Lampung, Rabu, 9 September 2026. Pemantauan dilakukan menggunakan KRI Lepu-861 milik TNI AL.

Itera diwakili dosen Program Studi Fisika yang tergabung dalam Kelompok Keilmuan (KK) Fisika Kebumian, Dr. Ikah Ning Permanasari, S.Si., M.Si., dan Kepala LPPM Ir. Arif Rohman, S.T., M.T., Ph.D. Kehadiran tim Itera memberikan perspektif akademik dalam mengamati fenomena fisik yang menyertai aktivitas GAK.

Dr. Ikah menyampaikan, kegiatan tersebut bertujuan melihat secara langsung kondisi terkini GAK sekaligus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan lintas instansi dalam menghadapi dinamika aktivitas vulkanik di kawasan Selat Sunda.

Dari pengamatan di lapangan, emisi gas dan uap dari kawasan kawah GAK masih terlihat jelas. Kolom emisi berwarna putih hingga kelabu dan keluar relatif kontinu dari kawasan kawah. Kolom kemudian bergerak ke atas, berkembang, dan terdispersi mengikuti kondisi angin. Kolom emisi juga tampak turbulen dan bergumpal (billowing). Pada beberapa periode pengamatan, bagian bawah kolom terlihat lebih pekat dibandingkan bagian atasnya.

Sejumlah parameter perlu diperhatikan untuk memahami dinamika GAK, antara lain aktivitas kegempaan vulkanik dan tremor, deformasi tubuh gunung api, serta perubahan emisi gas vulkanik.

Dr. Ikah menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan proses pelepasan gas dan uap dari kawasan kawah masih berlangsung. Namun, pengamatan visual tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan perubahan tingkat aktivitas gunung api.  “Kondisi visual ini perlu dibaca bersama data pemantauan instrumental untuk mendapatkan gambaran aktivitas Gunung Anak Krakatau secara lebih menyeluruh,” ujar Dr. Ikah.

Menurut dia, sejumlah parameter perlu diperhatikan untuk memahami dinamika GAK, antara lain aktivitas kegempaan vulkanik dan tremor, deformasi tubuh gunung api, serta perubahan emisi gas vulkanik. Pengamatan terhadap perubahan berbagai parameter tersebut dari waktu ke waktu dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai dinamika sistem vulkanik.

“Yang terlihat di permukaan merupakan manifestasi dari proses yang berlangsung pada sistem gunung api. Karena itu, kita tidak hanya melihat besar atau kecilnya kolom emisi, tetapi juga perlu memperhatikan tren perubahan berbagai parameter secara bersama-sama,” jelasnya.

Potensi Bahaya

Selama pengamatan, tidak terlihat kolom abu gelap yang dominan, lontaran material pijar, maupun awan panas yang bergerak menuruni lereng. Meski demikian, aktivitas gunung api bersifat dinamis. Kondisi visual pada saat pengamatan karena itu tidak dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa potensi bahaya telah berkurang.

Pemantauan tersebut juga melibatkan sejumlah unsur pemerintah daerah, antara lain Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Dinas Lingkungan Hidup, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Perhubungan, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), serta Dinas Kelautan dan Perikanan.

Keterlibatan akademisi dalam kegiatan bersama TNI AL dan pemerintah daerah menjadi bagian dari upaya memperkuat mitigasi bencana berbasis data dan ilmu pengetahuan. Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kondisi GAK serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan perubahan aktivitas vulkanik.

Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak menjadikan pengamatan visual sebagai satu-satunya acuan dalam menilai kondisi gunung api. Informasi mengenai tingkat aktivitas, zona bahaya, dan rekomendasi keselamatan tetap mengacu pada keterangan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). (Rilis/Humas)