ITERA NEWS — Institut Teknologi Sumatera (Itera) memperkuat upaya mewujudkan kampus inklusif melalui pelatihan bahasa isyarat yang melibatkan komunitas Tuli. Kegiatan diselenggarakan Tim Layanan Disabilitas Itera, Kamis, 8 Oktober 2026, di Ruang Workshop Gedung C Itera diikuti 50 peserta, yang terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan masyarakat umum, termasuk guru sekolah luar biasa (SLB).
Pelatihan tersebut tidak hanya memperkenalkan kosakata dasar Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), tetapi juga memberikan pemahaman mengenai budaya Tuli dan cara berkomunikasi secara efektif dengan komunitas Tuli. Kegiatan ini menjadi langkah Itera untuk membangun lingkungan akademik yang lebih mudah diakses dan memungkinkan seluruh sivitas akademika berpartisipasi secara setara.
Ketua Senat sekaligus Penanggung Jawab Tim Layanan Disabilitas Itera, Dr. Sunarsih, mengatakan bahwa kampus inklusif harus memberikan kesempatan yang setara kepada semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Komitmen itu, menurut dia, perlu diwujudkan melalui kebijakan dan layanan yang mendukung partisipasi mereka dalam kehidupan kampus.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari program Itera menuju kampus yang inklusif. Itera adalah kampus yang membuka kesempatan secara setara bagi masyarakat dan penyandang disabilitas,” ujar Dr. Sunarsih saat menyampaikan sambutan menggunakan bahasa isyarat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Itera menuju kampus yang inklusif. Itera adalah kampus yang membuka kesempatan secara setara bagi masyarakat dan penyandang disabilitas
Sunarsih menambahkan, upaya membangun kampus inklusif perlu berangkat dari prinsip pengarusutamaan disabilitas (disability mainstreaming) dan semangat nothing about us without us atau tidak ada kebijakan tentang kami tanpa kami. Prinsip tersebut menempatkan penyandang disabilitas dan organisasi yang mewakili mereka sebagai mitra dalam merancang kebijakan dan layanan, bukan semata-mata sebagai penerima manfaat.
Dalam pelatihan tersebut, Itera menghadirkan Ketua DPD Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) Provinsi Lampung, Muhammad Faris, dan guru bahasa isyarat, Rabiatul Aisyah Amimi. Keduanya memandu peserta mengenal budaya Tuli, mempelajari kosakata dasar Bisindo, serta memahami cara berinteraksi yang tepat dengan komunitas Tuli.
Pelibatan Penyandang Disabilitas
Pelibatan narasumber dari komunitas Tuli menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Ketua Tim Layanan Disabilitas Itera, Dr. Winati Nurhayu, mengatakan bahwa penyediaan layanan yang inklusif memerlukan keterlibatan penyandang disabilitas sejak tahap perencanaan. Menurut dia, kampus perlu membuka ruang kolaborasi agar layanan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan penggunanya.
“Bahasa isyarat bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan jembatan agar teman Tuli dapat berpartisipasi setara di kampus. Kami ingin layanan dirancang bersama penyandang disabilitas, bukan hanya untuk mereka,” ujar Winati.
Upaya tersebut sejalan dengan kerangka kebijakan nasional mengenai pemenuhan hak penyandang disabilitas. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 mengesahkan Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (Convention on the Rights of Persons with Disabilities/CRPD), sedangkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengatur pemenuhan hak penyandang disabilitas, termasuk di bidang pendidikan serta komunikasi dan informasi.
Di tingkat institusi, Itera juga memiliki Peraturan Rektor Nomor 3 tentang Pelayanan bagi Penyandang Disabilitas di Institut Teknologi Sumatera. Pelatihan bahasa isyarat menjadi salah satu upaya untuk menerjemahkan komitmen tersebut ke dalam praktik layanan di lingkungan kampus. (Rilis/Humas)




