ITERA NEWS — Tim Institut Teknologi Sumatera (Itera) melatih warga RT 04, Lingkungan 2, Dusun Tanjung Halo, Kelurahan Kedaung, Kemiling, Bandar Lampung, mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos dan pakan ternak. Kegiatan ini juga mencakup pemetaan lokasi potensial untuk mendukung sistem pengumpulan dan pemilahan sampah terpadu.
Pelatihan yang berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2026, ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Itera. Program bertema “Strategi Penataan Ruang Lingkungan Berbasis Masyarakat Melalui Sistem Pemilahan Sampah Terpadu” tersebut dipimpin Nela Agustin Kurnianingsih, S.T.,M.T., dan melibatkan kolaborasi Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota dengan Program Studi Teknik Lingkungan Itera.
Tim pelaksana memberikan pelatihan dan pendampingan melalui tiga kegiatan utama, yakni pengomposan, budidaya maggot, dan pemetaan lokasi potensial untuk pengumpulan sampah.
Nela Agustin menyampaikan, pada pelatihan pengomposan, warga mempelajari cara mengolah sampah organik, seperti sisa makanan dan daun, menggunakan tong komposter. Peserta juga diperkenalkan pada penggunaan bioaktivator EM4 untuk membantu proses penguraian bahan organik menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas tanah.
Tim Itera turut mengenalkan budidaya larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot sebagai alternatif pengolahan sampah organik. Larva ini dapat membantu mengurangi volume sampah sekaligus berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ternak karena kandungan protein dan lemaknya.
Tim Itera turut mengenalkan budidaya larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot sebagai alternatif pengolahan sampah organik. Larva ini dapat membantu mengurangi volume sampah sekaligus berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ternak karena kandungan protein dan lemaknya.
Selain pengolahan sampah, tim melakukan analisis spasial untuk mengidentifikasi lokasi potensial bagi infrastruktur pemilahan dan pengumpulan sampah. Hasil analisis tersebut menghasilkan lima titik potensial yang dapat dipertimbangkan untuk mendukung pelayanan pengelolaan sampah di kawasan tersebut.
Ketua RT 04 Dusun Tanjung Halo, Tono, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurut dia, sampah masih menjadi tantangan di lingkungan permukiman sehingga warga membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengelolanya.
“Melalui pelatihan ini, warga kami tidak hanya sekadar membuang sampah, tetapi juga belajar mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, seperti pupuk dan pakan ternak. Kami sangat berterima kasih atas bimbingan dari tim Nela dan kawan-kawan,” ujar Tono. (Rilis/Humas)
