You are currently viewing Dari Ruang Kuliah ke Industri Nasional, Refleksi Mahasiswa Itera Peserta Danantara TIIF 2026

Dari Ruang Kuliah ke Industri Nasional, Refleksi Mahasiswa Itera Peserta Danantara TIIF 2026

 

Oleh : Muhammad Hanif Azra
Wakil Ketua Bidang 2 Senat KM-Itera

Saya mahasiswa Teknologi Industri Pertanian Institut Teknologi Sumatera (Itera) yang berkesempatan mengikuti Danantara Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026 yang berlangsung di Jakarta, 26 – 27 Oktober 2026. Jujur, awalnya saya mengira forum seperti ini agak jauh dari dunia perkuliahan saya. Topiknya berkisar pada pengelolaan investasi negara, obligasi global, kecerdasan buatan (AI), hingga restrukturisasi BUMN. Namun, justru dari forum ini saya mulai melihat gambaran besar tentang bagaimana ilmu yang saya pelajari di kampus nantinya digunakan.

Hal pertama yang menempel di kepala adalah angka perampingan BUMN. Dalam paparan Chief Operating Officer, Danantara Indonesia transformasi BUMN, Dony Oskaria, digambarkan melalui penataan dan konsolidasi perusahaan agar lebih efisien dan kompetitif. Saya melihat arah pembenahan ini masuk akal: struktur perusahaan perlu dirapikan, disiplin keuangan dipulihkan, dan tata kelola diperkuat. Namun, sebagai mahasiswa, saya juga merasa angka-angka tersebut perlu dibaca secara kritis dan diperiksa melalui laporan resmi perusahaan. Bagi saya, keberhasilan transformasi tidak cukup diukur dari berapa banyak entitas yang dirampingkan atau seberapa besar laba yang dihasilkan.

Laporan Antara pada 26 Oktober 2026 mencatat bahwa laba bersih gabungan BUMN mencapai Rp214,9 triliun pada Januari-Agustus 2026, naik 18,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi salah satu indikator kinerja yang dipaparkan Danantara. Namun, saya tetap melihat pertanyaan yang lebih penting: sejauh mana pertumbuhan itu memberikan dampak bagi masyarakat? “Angka sebesar apa pun baru berarti kalau dampaknya sampai ke petani, pelaku usaha kecil, dan lulusan seperti kami.”

Kata hilirisasi sering kami dengar di dalam kelas. Di forum ini saya melihat proyek yang sedang dikerjakan. Dari sini, saya semakin yakin bahwa apa yang telah saya peroleh di Itera dapat berkontribusi pada pelaksanaan proyek tersebut

Bagian yang paling dekat dengan jurusan saya adalah paparan Sigit Puji Santosa, Chief Technology Officer Danantara Indonesia mengenai klaster pangan, kesehatan, dan pertanian. Dalam sesi tersebut, saya mencatat berbagai rencana pengembangan industri, mulai dari fasilitas unggas terintegrasi, pengolahan kelapa menjadi medium-chain triglyceride (MCT) oil, tepung, dan karbon aktif, pengolahan rumput laut menjadi karagenan, hingga pengembangan benih unggul. Saya juga mencatat paparan mengenai peningkatan laba Pupuk Indonesia sebesar 233%. Angka itu turut diberitakan Antara sebagai bagian dari paparan kinerja BUMN oleh Danantara.

Bagi saya, contoh-contoh tersebut membuat pembahasan hilirisasi terasa lebih dekat. Di kelas, kami sering mempelajari bagaimana bahan baku yang dijual tanpa pengolahan lebih lanjut berpotensi kehilangan kesempatan untuk menghasilkan nilai tambah di dalam negeri. Di forum ini, saya melihat contoh proyek industri yang berupaya mengolah komoditas menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. “Kata hilirisasi sering kami dengar di dalam kelas. Di forum ini saya melihat proyek yang sedang dikerjakan. Dari sini, saya semakin yakin bahwa apa yang telah saya peroleh di Itera dapat berkontribusi pada pelaksanaan proyek tersebut.”

Kampus dan Industrialisasi

Saya juga mendapat perspektif baru ketika para pembicara membahas hubungan antara perguruan tinggi, riset, dan industrialisasi. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam industrialisasi berbasis sains dan teknologi. Sementara itu, Ketua Tim Pelaksana Wantiknas, Ilham Akbar Habibie menyoroti persoalan produktivitas pertanian dan pentingnya pemanfaatan teknologi. Bagi saya yang belajar di bidang Teknologi Industri Pertanian, isu ini terasa relevan. Masih ada ruang untuk mengembangkan teknologi pengolahan, meningkatkan efisiensi proses produksi, dan menghadirkan inovasi yang benar-benar menjawab kebutuhan petani serta industri pangan.

“Melalui forum ini, saya semakin yakin bahwasanya mahasiswa, melalui riset dan inovasi, dapat berperan penting dalam perkembangan teknologi, terutama dari kampus seperti Itera yang berbasis sains dan teknologi.”

Ada hal lain yang membekas bagi saya, yaitu persoalan akses teknologi. Dalam catatan saya, Chris Walker selaku APJ di SpaceX Super Intelligence menyinggung 745 puskesmas yang belum memiliki akses internet sama sekali. Angka tersebut juga pernah disampaikan Kementerian Kesehatan pada 2024, meskipun saya belum dapat memastikan apakah angka yang sama digunakan sebagai data terbaru dalam forum ini. Bagi saya, persoalan ini mengingatkan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan cukup bermanfaat jika tidak menjangkau pihak yang membutuhkannya. Hal serupa berlaku di sektor pertanian: inovasi harus bisa diterapkan dan diakses oleh masyarakat, termasuk petani di wilayah yang menghadapi keterbatasan infrastruktur.

Tiga Harapan

Dari pengalaman mengikuti TIIF 2026, saya membawa pulang tiga harapan. Pertama, hilirisasi pertanian perlu dijalankan dengan target yang terukur dan data yang terbuka agar perkembangannya dapat dievaluasi publik, termasuk oleh mahasiswa. Kedua, kampus dan mahasiswa perlu dilibatkan secara nyata dalam riset, pengembangan teknologi, dan pelaksanaan proyek industri, bukan sekadar diundang untuk hadir. Ketiga, transformasi BUMN perlu dijaga konsistensinya hingga 2030 agar pembenahan tidak berhenti di tengah jalan dan manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan. “Saya pulang bukan membawa jawaban, tapi membawa pertanyaan yang lebih tajam dan keyakinan bahwa riset kami layak diperjuangkan.”

Bagi saya, mengikuti TIIF 2026 bukan sekadar kesempatan mendengarkan paparan para pemimpin industri dan pemangku kebijakan. Forum ini mengubah cara saya melihat hubungan antara materi perkuliahan dan kebutuhan industri nasional. Saya menyadari bahwa pengetahuan yang kami pelajari di kampus memiliki ruang penerapan yang luas, tetapi membutuhkan kolaborasi, kesempatan, dan keberanian untuk mengembangkan riset menjadi solusi nyata. Pada akhirnya, saya ingin apa yang dipelajari mahasiswa hari ini tidak berhenti sebagai tugas atau laporan penelitian, melainkan menjadi bagian dari perubahan yang dapat dirasakan masyarakat. []