You are currently viewing Dosen Teknik Kelautan Itera Dorong Mitigasi Risiko Bencana Pelabuhan Panjang

Dosen Teknik Kelautan Itera Dorong Mitigasi Risiko Bencana Pelabuhan Panjang

 

ITERA NEWS – Dua dosen Program Studi Teknik Kelautan Institut Teknologi Sumatera (Itera), Dr. Satriyo Panalaran, S.Kel., M.Eng., dan Muhammad Fatkhurrozi, S.T., M.T., menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) Keselamatan dan Ketangguhan Pelabuhan Panjang yang diselenggarakan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Panjang, Rabu, 28 Oktober 2026.

Forum tersebut diikuti sekitar 20 pemangku kepentingan kepelabuhanan, termasuk Badan Usaha Pelabuhan (BUP), Terminal Khusus (Tersus), dan Terminal untuk Kepentingan Sendiri (TUKS). Kegiatan ini bertujuan memperkuat kesiapsiagaan, koordinasi, dan kapasitas penanganan keadaan darurat di kawasan Pelabuhan Panjang.

Dalam pemaparannya, Muhammad Fatkhurrozi menekankan pentingnya mempertimbangkan kondisi hidrodinamika, seperti gelombang, arus, dan perubahan dasar perairan, dalam perencanaan serta pembangunan dermaga. “Faktor-faktor tersebut berpengaruh terhadap stabilitas struktur, keselamatan infrastruktur, dan keberlanjutan operasional Pelabuhan,” ujar Fatkhurrozi.

“Pelabuhan diharapkan menjadi mitra strategis masyarakat melalui penyebaran informasi dan peringatan dini, penguatan komunikasi, serta pelaksanaan latihan kesiapsiagaan bersama”

Melalui sejumlah studi kasus kerusakan dermaga akibat gelombang ekstrem dan gerusan dasar perairan, Fatkhurrozi menjelaskan perlunya kajian teknis berbasis karakteristik lingkungan setempat. Pendekatan tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kerusakan sekaligus meningkatkan keandalan fasilitas Pelabuhan.

Sementara itu, Satriyo Panalaran membahas mitigasi risiko bencana dan penguatan ketahanan infrastruktur pelabuhan. Menurutnya, ketangguhan pelabuhan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan infrastruktur, tetapi juga kesiapan organisasi, efektivitas koordinasi, serta keterlibatan masyarakat pesisir dalam menghadapi keadaan darurat.

Pelabuhan dan masyarakat pesisir memiliki keterkaitan erat sehingga upaya pengurangan risiko bencana perlu dilakukan secara terpadu. “Pelabuhan diharapkan menjadi mitra strategis masyarakat melalui penyebaran informasi dan peringatan dini, penguatan komunikasi, serta pelaksanaan latihan kesiapsiagaan bersama,” ujar Satriyo.

Dengan pendekatan tersebut, ketangguhan pelabuhan mencakup kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, kelembagaan, dan masyarakat, mulai dari tahap antisipasi, penanganan darurat, hingga pemulihan pascabencana.

Dorong Pusat Koordinasi

FGD ini juga menjadi langkah awal untuk mendorong pengembangan Port Resilience Command Center (PRECC), sebuah inisiatif yang ditujukan untuk memperkuat pemantauan risiko, pertukaran informasi, dan koordinasi respons kedaruratan di kawasan Pelabuhan Panjang.

Program Studi Teknik Kelautan Itera mengapresiasi inisiatif KSOP Kelas I Panjang dalam mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. Forum tersebut dinilai penting untuk menyamakan pemahaman dan mendorong penyusunan rencana tanggap darurat terpadu, mengingat setiap entitas pelabuhan memiliki karakteristik operasional dan potensi risiko berbeda. Melalui pengembangan PRECC, koordinasi antarinstansi dan pelaku usaha diharapkan semakin terintegrasi sehingga penanganan keadaan darurat dapat berlangsung lebih efektif.

Partisipasi dosen Teknik Kelautan Itera dalam forum ini menjadi wujud kontribusi keilmuan perguruan tinggi untuk memperkuat keselamatan pelayaran, mitigasi risiko pesisir, dan ketahanan infrastruktur maritim. Kolaborasi antara perguruan tinggi, regulator, pelaku usaha, instansi penanggulangan bencana, dan masyarakat diharapkan mendukung terwujudnya Pelabuhan Panjang yang aman, tangguh, dan berkelanjutan. (Rilis/Humas)