You are currently viewing Itera Kenalkan STEAM kepada Santri Al-Quds Lewat Pembuatan Balsem Herbal

Itera Kenalkan STEAM kepada Santri Al-Quds Lewat Pembuatan Balsem Herbal

ITERA NEWS — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dan KKN Rekognisi Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengenalkan pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) kepada santri Pondok Pesantren Al-Quds, Gunung Terang, Bandar Lampung, melalui edukasi dan praktik pembuatan balsem herbal berbahan alami, Minggu, 23 Agustus 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program PKM bertajuk Penguatan Literasi Sains dan Kreativitas Santri melalui Implementasi STEAM pada Pembuatan Balsem Herbal di Pondok Pesantren Al-Quds. Program tersebut bertujuan memperkuat literasi sains di lingkungan pesantren melalui pembelajaran yang aplikatif dan kreatif.

Tim PKM dipimpin Dr. Muhamad Allan Serunting, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Lapangan KKN Rekognisi, bersama Dr. Mariyam, S.Pd., M.Sc., M. Luqmanul Hakim Habibie, S.Pd.I., M.Pd.I., M. Alvien Ghifari, S.Si., M.Sc., dan Cindy Moyna Clara L.A., S.Si., M.Si. Kegiatan juga melibatkan lima mahasiswa KKN Rekognisi Program Studi Kimia Itera.

Menurut Allan, pembelajaran dirancang agar santri tidak hanya memahami konsep STEAM, tetapi juga mampu menerapkannya menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi. “Keterampilan yang kami berikan diharapkan menjadi bekal untuk membangun kemandirian dan jiwa kewirausahaan setelah lulus dari pesantren,” ujar Allan.

“Keterampilan yang kami berikan diharapkan menjadi bekal untuk membangun kemandirian dan jiwa kewirausahaan setelah lulus dari pesantren”

Kegiatan diawali dengan pretest, dilanjutkan pemaparan konsep STEAM, kemudian praktik membuat balsem herbal menggunakan lilin lebah (beeswax), virgin coconut oil (VCO), dan essential oil dengan teknik double boiler. Melalui praktik tersebut, peserta mempelajari konsep kimia, seperti sifat bahan, proses pencampuran, perubahan fisik, dan pengendalian suhu, sekaligus mengenal prinsip green chemistry melalui pemanfaatan bahan alami.

Pembelajaran sains juga dipadukan dengan nilai keislaman. Peserta diajak memahami pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab sebagai bagian dari pembelajaran dan tradisi thibbun nabawi.

Evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta. Nilai rata-rata pretest meningkat dari 50,6 menjadi 82,2 pada posttest, atau naik sekitar 31,6 poin setelah mengikuti materi dan praktik.

Perwakilan Pondok Pesantren Al-Quds, Nor Rochmatul Wachidah, M.Pd.I., mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai sejalan dengan upaya penguatan kompetensi dan kemandirian santri. (Rilis/Humas)