ITERA NEWS — Fakultas Sains Institut Teknologi Sumatera (Itera) memperkuat kolaborasi riset dan inovasi melalui The 2nd International Conference on Sustainability in Science for the Future (ICSSF) 2026 di Holiday Inn Lampung Bukit Randu, Kamis, 20 Agustus 2026.
Konferensi internasional ini mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, dan pemangku kepentingan untuk membahas peran sains dan teknologi dalam menjawab tantangan masa depan. Mengusung isu keberlanjutan, ICSSF 2026 membahas beragam bidang, seperti kesehatan, material, biologi, astronomi, energi, dan kecerdasan buatan.
Konferensi menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai bidang keilmuan, antara lain Dita Novianti Sugandi Argadiredja, S.Si., Apt., M.M., Prof. Dato’ Dr. Ibrahim Jantan, Prof. Ts. Dr. Sumaiya Bt Zainal Abidin, Prof. Tatsuki Oda, Ph.D., Prof. Hadi Susanto, dan Dr. Robiatul Muztaba, S.Si., M.Si.
Prof. Ts. Dr. Sumaiya Bt. Dr. Sumaiya Bt. Zainal Abidin membahas teknologi bi-reforming of methane untuk menghasilkan syngas secara lebih berkelanjutan. Sementara Prof. Dato’ Dr. Ibrahim Jantan mengulas pemanfaatan systems biology, teknologi omics, dan network pharmacology dalam pencarian kandidat obat berbasis bahan alam.
Konferensi internasional ini mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, dan pemangku kepentingan untuk membahas peran sains dan teknologi dalam menjawab tantangan masa depan.
Narasumber lain, Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian pada Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dita Novianti S. A., menyoroti pemanfaatan sains dan teknologi untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional, termasuk kecerdasan buatan, genomik, precision medicine, robotik, serta pengembangan farmasi dan alat kesehatan.
Dari bidang astronomi dan sains antariksa, Dr. Robiatul Muztaba, S.Si., M.Si. membahas pengembangan instrumentasi astronomi untuk Space Situational Awareness. Adapun Prof. Hadi Susanto dari Khalifa University mengulas pemanfaatan neural networks untuk memprediksi sistem dinamis yang dapat diterapkan pada isu perubahan iklim, energi terbarukan, dan ketahanan ekologi.
Selain sesi utama, ICSSF 2026 diisi poster presentation dan oral presentation yang terbagi dalam empat track. Peserta mempresentasikan penelitian mengenai material dan nanoteknologi, energi terbarukan, kesehatan berkelanjutan, biodiversitas, lingkungan, sains kebumian, kecerdasan buatan, hingga fisika.
Konferensi ini juga menampilkan sejumlah riset dari sivitas akademika Itera. Leni Rumiyanti, misalnya, mempresentasikan penelitian pemanfaatan sekam padi sebagai bahan mesoporous silica nanoparticles untuk aplikasi antikorosi. Sementara Hendry Wijayanti membahas strategi reproduksi dan dinamika evolusi.
Melalui ICSSF 2026, Fakultas Sains Itera tidak hanya menjadi ruang berbagi hasil penelitian, tetapi juga mempertemukan peneliti dari berbagai disiplin untuk membangun jejaring dan membuka peluang kolaborasi riset. Konferensi tersebut diharapkan memperkuat kontribusi sains dan teknologi dalam menghasilkan solusi yang relevan bagi tantangan pembangunan berkelanjutan. (Rilis/Humas)




