ITERA NEWS – Program Studi Rekayasa Kosmetik Institut Teknologi Sumatera (Itera) mendorong Kelompok Petani Pala Ranting Jaya, Desa Maja, Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran, memanfaatkan hidrosol daun pala sebagai bahan baku produk perawatan rambut. Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) pada 27 Agustus 2026.
Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Kelompok Petani Pala Ranting Jaya untuk Transformasi Limbah Hidrosol sebagai Produk Inovasi Perawatan Rambut” tersebut bertujuan meningkatkan nilai tambah hasil pengolahan pala sekaligus mengenalkan pemanfaatan bahan alam untuk pengembangan produk kosmetik.
Dalam kegiatan itu, masyarakat diperkenalkan pada potensi hidrosol daun pala untuk dikembangkan menjadi hair mist. Peserta juga memperoleh pengetahuan dasar mengenai formulasi dan pengembangan produk kosmetik berbahan alam.
Ketua Tim PkM, apt. Arsy Fauziah, S.Farm., M.Si., mengatakan pemanfaatan hidrosol menjadi salah satu cara untuk mengoptimalkan potensi lokal sekaligus menerapkan prinsip kosmetik berkelanjutan. “Kami ingin memperkenalkan bahwa hasil samping pengolahan pala masih memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Harapannya, inovasi ini dapat membuka peluang diversifikasi produk bagi masyarakat,” ujar Arsy.
Dalam kegiatan itu, masyarakat diperkenalkan pada potensi hidrosol daun pala untuk dikembangkan menjadi hair mist. Peserta juga memperoleh pengetahuan dasar mengenai formulasi dan pengembangan produk kosmetik berbahan alam.
Materi disampaikan melalui pemaparan, diskusi, dan demonstrasi formulasi hair mist. Peserta mengikuti proses tersebut sekaligus berdiskusi mengenai peluang pengembangan produk berbasis pala.
Tim PkM diketuai Arsy Fauziah dengan anggota Iwan Syahjoko Saputra, M.Si., apt. Jenifer Kolina, M.Farm., dan Nisa Raudotul Auli, S.Si., M.Biotech. Kegiatan turut melibatkan mahasiswa Program Studi Rekayasa Kosmetik Itera.
Melalui kegiatan tersebut, Prodi Rekayasa Kosmetik Itera berharap pemanfaatan hidrosol dapat menjadi langkah awal dalam meningkatkan nilai tambah komoditas pala lokal. Inisiatif ini juga diharapkan mendorong pengurangan limbah serta membuka peluang pengembangan produk kosmetik berbasis bahan alam yang berkelanjutan. (Rilis/Humas)
