ITERA NEWS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung bersama Institut Teknologi Sumatera (Itera) menguji kesiapsiagaan menghadapi banjir melalui Tabletop Exercise (TTX) di Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, Kamis, 27 Agustus 2026. Simulasi ruang penanganan darurat bencana tersebut menjadi bagian dari penguatan Desa Tangguh Bencana (Destana) sekaligus menguji Rencana Kontingensi Bencana Banjir Desa Sumur. Peserta berlatih menjalankan skenario bencana, pembagian peran, alur komando, komunikasi, hingga pengerahan sumber daya.
Dosen Teknik Geomatika Itera, Zulfikar Adlan Nadzir, S.T., M.Sc., mengatakan skenario disusun berdasarkan karakteristik ancaman di Desa Sumur. Curah hujan tinggi dan luapan sungai diasumsikan menyebabkan banjir selama tiga hingga empat jam. Kondisi pasang air laut juga diperhitungkan karena dapat memengaruhi durasi genangan.
Skenario mencakup wilayah Sumur Induk, Keramat, dan Yogaloka dengan perkiraan 2.500–3.000 penduduk terdampak. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas, menjadi prioritas dalam proses evakuasi.
Skenario mencakup wilayah Sumur Induk, Keramat, dan Yogaloka dengan perkiraan 2.500–3.000 penduduk terdampak. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas, menjadi prioritas dalam proses evakuasi.
Latihan dilakukan melalui tiga fase, yakni siaga darurat, tanggap darurat, dan transisi menuju pemulihan. Pada fase awal, peserta menguji penyampaian peringatan dini, evakuasi warga, serta penyiapan tempat pengungsian, dapur umum, dan layanan kesehatan.
Pada fase tanggap darurat, peserta melakukan kaji cepat untuk mengidentifikasi korban, wilayah terdampak, kerusakan infrastruktur, kebutuhan masyarakat, dan sumber daya yang tersedia. Informasi tersebut menjadi dasar penentuan prioritas penanganan dan kebutuhan dukungan dari berbagai pihak.
Sementara itu, fase transisi menuju pemulihan diarahkan pada pemulihan akses, sanitasi, fasilitas umum, dan lingkungan permukiman yang terdampak banjir.
Pendekatan geospasial turut digunakan untuk mengidentifikasi wilayah terdampak, menentukan titik aman dan pos lapangan, serta mendukung perencanaan jalur evakuasi. Dengan demikian, informasi mengenai kondisi wilayah dapat diterjemahkan menjadi langkah penanganan yang lebih terarah.
Hasil latihan menunjukkan masih diperlukan penguatan sejumlah sarana pendukung, antara lain sistem peringatan dini, rambu dan peta evakuasi, perangkat komunikasi, tenda pengungsian, serta peralatan penyelamatan dan pembersihan. Temuan tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan Rencana Kontingensi Bencana Banjir Desa Sumur sekaligus menentukan prioritas peningkatan kapasitas desa. (Rilis/Humas)
