You are currently viewing Itera dan PT KAI Investigasi Tanah Labil di Jalur Kereta Baturaja

Itera dan PT KAI Investigasi Tanah Labil di Jalur Kereta Baturaja

ITERA NEWS – Tim peneliti Institut Teknologi Sumatera (Itera) bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional IV Tanjung Karang melakukan investigasi kondisi tanah labil di area jalur kereta api di Baturaja, Sumatera Selatan. Penelitian ini dilakukan untuk memetakan kondisi bawah permukaan yang diduga berkaitan dengan gangguan kestabilan tanah di sekitar jalur rel. Penelitian tersebut menjadi bagian dari kolaborasi perguruan tinggi dan dunia industri dalam menangani persoalan infrastruktur transportasi. Informasi mengenai kondisi bawah permukaan diperlukan untuk membantu PT KAI menentukan langkah penanganan yang sesuai dengan karakteristik tanah dan kondisi operasional jalur kereta api.

Tim peneliti Itera Dr. Handoyo, mengatakan pendekatan geofisika dalam penelitian ini diarahkan untuk menghasilkan gambaran kondisi bawah permukaan secara spasial. Data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam pembahasan penanganan bersama PT KAI dan pakar geoteknik “Penelitian ini tidak berhenti pada aspek akademik, tetapi diarahkan untuk memberikan informasi bawah permukaan yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam penanganan permasalahan tanah pada jalur kereta api,” ujar Dr. Handoyo.

Melalui metode MASW, tim peneliti Itera berupaya memberikan gambaran spasial mengenai kondisi lapisan bawah permukaan, khususnya keberadaan material clay yang diduga berkaitan dengan fenomena mud pumping. Handoyo menambahkan, permasalahan tanah labil di area tersebut telah berlangsung cukup lama dan berpotensi memengaruhi kestabilan serta kelancaran perjalanan kereta api. Karena itu, diperlukan investigasi bawah permukaan yang dapat memberikan informasi lebih menyeluruh dibandingkan pengamatan pada titik tertentu saja.

Penelitian ini tidak berhenti pada aspek akademik, tetapi diarahkan untuk memberikan informasi bawah permukaan yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam penanganan permasalahan tanah pada jalur kereta api

Dalam penelitian ini, tim Itera menggunakan metode seismik aktif Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW). Metode tersebut digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik lapisan bawah permukaan berdasarkan respons gelombang permukaan yang direkam melalui susunan sensor seismik di lapangan.

Hasil observasi lapangan dan pengolahan data MASW menunjukkan indikasi fenomena mud pumping. Kondisi ini terjadi ketika material tanah berbutir halus yang bercampur air terdorong atau bermigrasi ke permukaan akibat tekanan dan pembebanan berulang, termasuk yang dapat berkaitan dengan beban dinamis perjalanan kereta api.

Keberadaan material lempung (clay) dan karakteristik lapisan bawah permukaan menjadi perhatian karena dapat berkontribusi terhadap ketidakstabilan tanah di sekitar jalur rel. Salah satu fokus penelitian adalah mencitrakan sebaran lapisan clay secara spasial untuk mengidentifikasi zona yang diduga berkaitan dengan fenomena mud pumping.

Melalui pendekatan geofisika, kondisi bawah permukaan dapat dipetakan secara lateral dan vertikal sehingga memberikan gambaran variasi karakteristik tanah di sepanjang area yang diteliti. Informasi tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk mendukung analisis geoteknik.

Hasil investigasi akan dibahas bersama PT KAI Divre IV Tanjung Karang dengan melibatkan pakar geoteknik. Pembahasan diperlukan untuk mengintegrasikan hasil geofisika dengan kondisi jalur, beban operasional kereta api, serta aspek teknis lainnya sebelum menentukan metode penanganan yang sesuai. Hasil penelitian MASW diharapkan menjadi salah satu data pendukung dalam menentukan strategi penanganan tanah labil dan mud pumping pada area jalur kereta api di Baturaja. (Rilis LPPM/Humas)