ITERA NEWS – Kepakaran dosen Institut Teknologi Sumatera (Itera) kembali mendapat pengakuan di tingkat internasional. Dosen dan peneliti Program Studi Teknik Sistem Energi, Fakultas Teknologi Industri Itera, Rishal Asri, S.T., M.Eng., Ph.D., diundang sebagai pembicara dalam Seminar on APEC Technology Empowers Low Carbon Action (TELCA): Roadmaps, Accessibility and Partnership yang akan berlangsung pada 2–4 September 2026 di Shenzhen, China.
Undangan tersebut disampaikan oleh Dr. Jieni Guo, Sekretaris Jenderal Beijing International Exchange Association (BIEA), selaku Project Overseer kegiatan. Seminar ini merupakan bagian dari proyek APEC Technology Empowers Low Carbon Action (TELCA): Roadmaps, Accessibility and Partnership yang bertujuan mendorong pemanfaatan teknologi rendah karbon di negara-negara anggota APEC melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan sektor swasta.
Dalam forum internasional tersebut, Rishal akan mempresentasikan hasil risetnya mengenai transisi energi berkeadilan di Indonesia melalui paparan berjudul “Advancing a Just Transition: Sharing Costs and Benefits in Low-Carbon Policies”.
Rishal menjelaskan bahwa materi yang akan disampaikan mengangkat model pengembangan sistem penyimpanan energi bersama (shared energy storage) di kawasan kepulauan dengan pendekatan sosial sebagai salah satu contoh penerapan transisi energi yang berkeadilan.
Sesi yang diikuti Rishal akan membahas berbagai isu strategis, antara lain mekanisme kerja sama internasional, instrumen kebijakan untuk melindungi kelompok rentan selama proses transisi energi, serta upaya menyeimbangkan biaya jangka pendek dengan manfaat jangka panjang dalam implementasi kebijakan rendah karbon.
“Saya akan memaparkan model pengembangan sistem penyimpanan energi bersama di beberapa wilayah kepulauan yang dikembangkan dengan pendekatan sosial. Model ini diharapkan dapat menjadi contoh penerapan transisi energi yang berkeadilan dan dapat direplikasi di wilayah lain,” ujar Rishal.
Sesi yang diikuti Rishal akan membahas berbagai isu strategis, antara lain mekanisme kerja sama internasional, instrumen kebijakan untuk melindungi kelompok rentan selama proses transisi energi, serta upaya menyeimbangkan biaya jangka pendek dengan manfaat jangka panjang dalam implementasi kebijakan rendah karbon.
Seminar yang digelar di Longhua International Cooperation Center, Shenzhen, akan menghadirkan pembuat kebijakan, akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara anggota APEC untuk berbagi praktik baik, hasil riset, serta memperkuat kolaborasi dalam pengembangan teknologi rendah karbon.
Rishal menilai keikutsertaannya dalam forum tersebut menjadi bukti kontribusi dosen Itera dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional, sekaligus memperkuat peran institusi dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan dan transisi menuju ekonomi rendah karbon di kawasan Asia-Pasifik. (Rilis/Humas)
