You are currently viewing Dosen Itera Dampingi Siswa dan Guru SMA PGRI Tumijajar Kembangkan VCO dan Tepung Kelapa Fungsional

Dosen Itera Dampingi Siswa dan Guru SMA PGRI Tumijajar Kembangkan VCO dan Tepung Kelapa Fungsional

ITERA NEWS – Tim dosen Institut Teknologi Sumatera (Itera) mendampingi siswa dan guru SMAS PGRI Tumijajar, Tulang Bawang, Lampung, mengolah kelapa menjadi virgin coconut oil (VCO) dan tepung fungsional dari ampas kelapa dengan teknologi tepat guna. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pembelajaran sekaligus mendukung pengembangan laboratorium kewirausahaan berbasis potensi daerah.

Program ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk pendampingan produksi VCO dan tepung ampas kelapa berbasis circular economy untuk penguatan unit bisnis berkelanjutan di sekolah, dengan dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Tim pelaksana terdiri dari apt. Kiki Yuli Handayani, S.Farm., M.Pharm.Sci. sebagai ketua, bersama Rudi Setiawan, S.T., M.T. dan Elianasari, S.Si., M.Sc., serta melibatkan mahasiswa Itera yang direkognisi sebagai kegiatan KKN.

Dalam pelatihan, peserta mempelajari tahapan produksi VCO mulai dari pemilihan kelapa, pembuatan santan, fermentasi, hingga pemisahan minyak. Tim juga mengenalkan penggunaan alat sentrifus untuk mempercepat proses, serta mendorong praktik langsung agar hasil lebih terkontrol dan higienis.

Untuk mendukung hilirisasi produk, peserta juga dibekali materi sanitasi, pengemasan, pelabelan, dan strategi pemasaran, sehingga pengembangan produk tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi juga memperhatikan mutu dan penerimaan konsumen.

Selain itu, ampas kelapa diolah menjadi tepung fungsional melalui proses pengeringan, penghalusan, dan pengayakan. Produk ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pangan seperti kukis dan roti, sekaligus mengurangi limbah dan meningkatkan nilai ekonomi.

Penerapan Teknologi

Kiki menjelaskan, program ini dirancang agar teknologi yang diperkenalkan dapat diterapkan berkelanjutan di sekolah. “Kami ingin siswa dan guru tidak hanya memahami proses, tetapi juga mampu mengembangkan produk di Laboratorium Kewirausahaan,” ujar Kiki.

Untuk mendukung hilirisasi produk, peserta juga dibekali materi sanitasi, pengemasan, pelabelan, dan strategi pemasaran, sehingga pengembangan produk tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi juga memperhatikan mutu dan penerimaan konsumen.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan bazar produk pada Senin, 3 Agustus 2026, yang menjadi ajang promosi hasil olahan kepada masyarakat dan mitra sekolah. Kepala SMAS PGRI Tumijajar, Abdul Rohim Pasaribu, S.Or., M.M., mengapresiasi pendampingan dan dukungan peralatan dari tim Itera. Ia berharap laboratorium kewirausahaan dapat terus dimanfaatkan siswa untuk belajar produksi hingga pemasaran.

Melalui kegiatan ini, Laboratorium Kewirausahaan sekolah diharapkan berfungsi optimal sebagai sarana praktik, sekaligus mendorong keberlanjutan produksi VCO dan tepung kelapa sebagai produk unggulan berbasis potensi daerah. (Rilis/Humas)