Itera Dorong Hilirisasi Riset melalui Penguatan Strategi Paten dan Merek

Itera Dorong Hilirisasi Riset melalui Penguatan Strategi Paten dan Merek

Print Friendly, PDF & Email

ITERA NEWS — Institut Teknologi Sumatera (Itera) memperkuat upaya hilirisasi riset melalui pelatihan strategi paten dan merek yang digelar Pusat Kelola Karya Intelektual Itera di Aula GKU 2, Selasa, 28 April 2026. Kegiatan ini mendorong hasil riset dan inovasi sivitas akademika tidak berhenti pada publikasi atau sertifikat kekayaan intelektual, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi dan siap bermitra dengan industri.

Rektor Itera, Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha, menyampaikan bahwa paten menjadi bagian penting dalam transformasi hasil riset perguruan tinggi agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Ia berharap setiap program studi di Itera memiliki setidaknya satu paten sebagai bentuk kontribusi inovasi.

Dalam kesempatan itu, Rektor juga menyebut Itera menempati peringkat keempat pendaftar paten terbanyak nasional pada 2025. Capaian tersebut dinilai menunjukkan perkembangan ekosistem riset dan inovasi di lingkungan kampus.

Pelatihan menghadirkan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Ranie Utami Ronie, S.E., M.E., Kepala Subdirektorat Permohonan dan Pelayanan Direktorat Merek dan Indikasi Geografis, serta Rifan Fikri, S.T., M.H., Kepala Subdirektorat Permohonan dan Layanan Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Rahasia Dagang.

Rektor menyampaikan bahwa paten menjadi bagian penting dalam transformasi hasil riset perguruan tinggi agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Ia berharap setiap program studi di Itera memiliki setidaknya satu paten sebagai bentuk kontribusi inovasi.

Dalam paparannya, Ranie Utami menjelaskan merek tidak hanya berfungsi sebagai identitas produk, tetapi juga aset strategis untuk membangun kepercayaan konsumen dan meningkatkan daya saing usaha. Menurutnya, lisensi merek dapat menjadi instrumen komersialisasi yang membuka peluang perluasan pasar dan pendapatan melalui royalti.

Sementara itu, Rifan Fikri menekankan pentingnya perubahan paradigma perguruan tinggi menuju entrepreneurial university, yakni kampus yang mampu mendorong hasil riset menjadi inovasi bernilai ekonomi. Ia juga menyoroti tantangan “valley of death”, yakni kesenjangan antara hasil riset laboratorium dan kebutuhan industri.

Menurut Rifan, pengembangan paten perlu diarahkan agar lebih relevan dengan kebutuhan pasar dan didukung kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, serta industri melalui model triple helix.

Melalui pelatihan ini, Itera mendorong sivitas akademika lebih proaktif melindungi dan mengelola kekayaan intelektual sebagai aset strategis untuk memperkuat daya saing inovasi dan memperluas peluang kerja sama industri. (Rilis/Humas)