ITERA NEWS – Dosen Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Institut Teknologi Sumatera (Itera), Rinda Gusvita, S.T.P., M.Sc., menjadi narasumber dalam kegiatan Green Students Movement (GSM) yang diselenggarakan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung, pada 24–26 April 2026, di Villa Gatot, Kemiling, Bandar Lampung.
Kegiatan bertema “Gerakan Orang Muda untuk Energi Bersih dan Keadilan Ekologis” tersebut diikuti 25 peserta terpilih dari lebih dari 300 pendaftar. Para peserta merupakan mahasiswa dari berbagai daerah di Provinsi Lampung dan sekitarnya.
Dalam pemaparannya, Rinda Gusvita, S.T.P., M.Sc., membahas dinamika perubahan iklim serta respons kebijakan dari tingkat global hingga lokal. Ia menyoroti adanya tarik-menarik kepentingan antara pertumbuhan ekonomi jangka pendek dan upaya pelestarian lingkungan jangka panjang.
“Negara seringkali berada di persimpangan antara mengejar target pembangunan industri atau melakukan dekarbonisasi total. Seorang environmentalis tidak hanya dituntut kritis terhadap kebijakan, tetapi juga harus mampu melihat realitas di lapangan dan mengambil posisi tegas dalam mengawal keadilan ekologis,” ujar Rinda.
Negara seringkali berada di persimpangan antara mengejar target pembangunan industri atau melakukan dekarbonisasi total. Seorang environmentalis tidak hanya dituntut kritis terhadap kebijakan, tetapi juga harus mampu melihat realitas di lapangan dan mengambil posisi tegas dalam mengawal keadilan ekologis
Lebih lanjut, Rinda menjelaskan bahwa transisi energi global dari energi fosil menuju energi terbarukan tidak sekadar persoalan perpindahan teknologi, melainkan juga harus berlandaskan prinsip keadilan.
“Di satu sisi, kita membutuhkan energi bersih untuk menekan laju perubahan iklim. Namun di sisi lain, proses transisi ini kerap masih menggunakan pendekatan ekstraktif yang merugikan masyarakat lokal. Di sinilah peran environmentalis muda untuk bersikap kritis: transisi energi harus adil, bukan sekadar membuka komoditas bisnis baru,” katanya.
Ia juga menekankan adanya trade-off atau pertukaran kepentingan dalam kebijakan energi yang sering kali berdampak pada lingkungan. Oleh karena itu, menurutnya, aktivis muda perlu memahami dinamika politik internasional agar mampu mengambil sikap secara tepat.
Selama tiga hari pelaksanaan, GSM tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga wadah pembelajaran dan gerakan bagi mahasiswa untuk memperdalam isu lingkungan dan hak asasi manusia. Pada akhir kegiatan, peserta menyusun rencana tindak lanjut berupa program yang akan dijalankan selama satu bulan ke depan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga mampu berperan sebagai agen perubahan yang berkontribusi dalam mendorong kebijakan berkeadilan ekologis di tingkat lokal maupun nasional. (Rilis/Humas)


