You are currently viewing Dosen Fisika Itera Hadirkan Tiga Inovasi Pengelolaan Limbah dan Konservasi Air di Lampung Selatan

Dosen Fisika Itera Hadirkan Tiga Inovasi Pengelolaan Limbah dan Konservasi Air di Lampung Selatan

 

ITERA NEWS-Tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera) menghadirkan inovasi pengelolaan limbah penyulingan minyak kayu putih dan konservasi air di Dusun Muhajirun, Desa Negararatu, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Sabtu, 31 Oktober 2026. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Desa Binaan Berdampak, tim memperkenalkan tiga inovasi, yakni pemanfaatan hidrosol sebagai bahan pestisida organik, penerapan lubang resapan biopori, dan pengolahan limbah cair menggunakan biofilter.

Kegiatan bertema “Pemanfaatan Limbah Kayu Putih dan Penerapan Biopori untuk Lingkungan Berkelanjutan” ini dipimpin oleh Dr. Ajeng Eliyana, M.Si., bersama empat dosen dan sepuluh mahasiswa dari Program Studi Fisika, Teknik Informatika, Kimia, dan Sains Data Itera. Keterlibatan mahasiswa merupakan bagian dari KKN Rekognisi yang memungkinkan kegiatan pengabdian diakui sebagai aktivitas akademik.

Berdasarkan pengamatan awal, proses filtrasi menunjukkan perubahan karakteristik limbah, yakni berkurangnya bau, hilangnya lapisan minyak yang terlihat, serta perubahan warna dari cokelat kehitaman menjadi cokelat. Meski demikian, efektivitas pengolahan masih memerlukan pengujian lebih lanjut. Cairan hasil filtrasi juga berpotensi dikaji sebagai bahan pewarna alami setelah melalui pengujian karakteristik dan keamanan.

Dalam pengelolaan limbah penyulingan, tim memperkenalkan pemanfaatan hidrosol, yakni hasil samping penyulingan minyak kayu putih, sebagai bahan formulasi pestisida organik. Sementara itu, limbah padat berupa daun dan sisa tanaman dimanfaatkan sebagai bahan kompos untuk mengurangi limbah sekaligus meningkatkan nilai gunanya.

Untuk meningkatkan resapan air hujan dan mengurangi genangan, tim memasang lima unit biopori menggunakan drum berkapasitas 80 liter. Sarana ini juga berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah organik, termasuk limbah daun kayu putih. Warga turut mendapat penyuluhan mengenai penggunaan dan perawatan biopori agar fungsinya tetap optimal.

Tim juga membuat satu unit biofilter berkapasitas 120 liter dengan media honeycomb, biochar, karbon aktif, zeolit, manganis, silika, dan kerikil kasar. Alat tersebut dirancang untuk menyaring dan mengurangi kandungan pencemar dalam limbah cair penyulingan minyak kayu putih sebelum dilepaskan ke lingkungan.

Berdasarkan pengamatan awal, proses filtrasi menunjukkan perubahan karakteristik limbah, yakni berkurangnya bau, hilangnya lapisan minyak yang terlihat, serta perubahan warna dari cokelat kehitaman menjadi cokelat. Meski demikian, efektivitas pengolahan masih memerlukan pengujian lebih lanjut. Cairan hasil filtrasi juga berpotensi dikaji sebagai bahan pewarna alami setelah melalui pengujian karakteristik dan keamanan.

Sebagai upaya mendukung keberlanjutan program, tim menyerahkan lima unit biopori kepada masyarakat melalui Kepala Dusun Muhajirun serta satu unit biofilter kepada Kepala KOPPONTREN Al-Fatah, Suhono. Kegiatan ini juga ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Itera dan KOPPONTREN Al-Fatah untuk memperkuat pengembangan teknologi tepat guna dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui program ini, Itera berharap masyarakat dapat mengelola limbah penyulingan minyak kayu putih secara lebih baik, meningkatkan resapan air, serta menerapkan teknologi pengolahan limbah yang berkelanjutan. (Rilis/Humas)