ITERA NEWS – Institut Teknologi Sumatera (Itera) membuka peluang kolaborasi riset dan pengembangan teknologi di bidang logam tanah jarang (LTJ) sebagai bagian dari upaya memperkuat hilirisasi mineral strategis Indonesia. Hal tersebut mengemuka dalam Studium Generale bertema “Hilirisasi Industri Mineral” yang digelar Kamis, 23 Juli 2026, di Gedung C Itera. Kegiatan ini menghadirkan akademisi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan sektor mineral untuk membahas potensi serta tantangan pengembangan LTJ di Indonesia.
Logam tanah jarang merupakan kelompok 17 unsur kimia yang berperan penting dalam berbagai teknologi modern, mulai dari telepon pintar, layar televisi, baterai kendaraan listrik, hingga turbin angin dan berbagai peralatan strategis lainnya. Indonesia memiliki potensi sumber daya mineral kritis dan strategis yang besar, termasuk di wilayah Sumatera. Namun, tantangan pengembangannya tidak hanya terletak pada ketersediaan sumber daya, tetapi juga pada penguasaan teknologi untuk memisahkan dan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. La Ode Tafrin Jaya dari PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas menyampaikan materi mengenai pengembangan industri LTJ. Sementara itu, Dr. Ir. Syahrir Ridha, S.T., M.Sc., dan Prof. Dr. Eng. Ir. Sri Harjanto, IPM., dari Badan Industri Mineral (BIM), memaparkan teknologi ekstraksi LTJ serta strategi orkestrasi hilirisasi mineral kritis dan strategis. Diskusi menekankan pentingnya kolaborasi antara industri, perguruan tinggi, lembaga riset, dan pemerintah untuk mempercepat pengembangan teknologi secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Kami sangat senang karena riset-riset di Itera dapat diarahkan ke bidang ini. Tantangan hilirisasi membutuhkan kolaborasi antara industri dan akademisi, terutama dalam melakukan validasi teknologi
Rektor Itera, Prof. Dr. Apt. Elfahmi, S.Si., M.Si., menyatakan akan segera menindaklanjuti peluang kolaborasi tersebut dengan melibatkan program studi yang relevan. Menurutnya, penguatan riset di bidang logam tanah jarang menjadi peluang strategis bagi Itera untuk berkontribusi dalam pengembangan industri mineral nasional.
“Ini seperti durian runtuh. Kami sangat senang karena riset-riset di Itera dapat diarahkan ke bidang ini. Tantangan hilirisasi membutuhkan kolaborasi antara industri dan akademisi, terutama dalam melakukan validasi teknologi,” ujar Rektor.
Sementara itu, Dr. Ir. Syahrir Ridha, S.T., M.Sc., menegaskan bahwa tantangan utama pengembangan logam tanah jarang bukan semata-mata terletak pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada kemampuan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
“Kita tidak ingin mengorbankan lingkungan. Karena itu, pengembangan logam tanah jarang harus dilakukan melalui responsible and sustainable mining. Kita juga tidak bisa melakukannya sendiri. Diperlukan kolaborasi antara industri, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya,” ujar Dr. Syahrir.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Itera Hadi Teguh Yudistira, S.T., Ph.D., serta Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum Itera Bobby Rahman, S.T., M.Si.(Han)., Ph.D. Melalui kolaborasi tersebut, Itera berharap dapat memperkuat riset, meningkatkan kompetensi mahasiswa, khususnya di bidang teknik pertambangan dan program studi terkait, serta mengembangkan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan industri mineral nasional.
Tim Liputan
Penulis : Desisonia Lilia Hadiputri
Fotografer : Muhammad Arwecendo Edison







