ITERA NEWS — Tim dosen Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Institut Teknologi Sumatera (Itera) melakukan pendampingan pembuatan pupuk organik berbasis Sargassum di Desa Pulau Pahawang, Kabupaten Lampung Selatan. Program yang berlangsung sejak Maret 2026 tersebut menyasar masyarakat pesisir dan pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai upaya mendorong pemanfaatan potensi lokal berbasis lingkungan.
Kegiatan dipimpin dosen Program Studi Teknologi Industri Pertanian Itera, Dr. Elsa Windiastuti, S.TP., M.Si., bersama dosen Program Studi Biologi Itera, Novriadi, M.Si. Pendampingan difokuskan pada pemanfaatan alga coklat Sargassum yang melimpah di kawasan pesisir Pahawang, namun belum dimanfaatkan secara optimal menjadi produk bernilai tambah.
Dalam kegiatan tersebut, tim memberikan pelatihan sekaligus pendampingan langsung kepada masyarakat, mulai dari proses pengolahan bahan baku hingga aplikasi pupuk organik pada lahan pertanian. Pupuk berbasis Sargassum dinilai memiliki potensi sebagai alternatif ramah lingkungan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan.
Ketua BUMDes Pahawang, Nasrudin, menyampaikan apresiasinya terhadap program pendampingan yang dinilai memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena tidak hanya menambah pengetahuan masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha berbasis potensi lokal. Kami berharap kerja sama dengan Itera dapat terus berlanjut, termasuk melalui program Kuliah Kerja Nyata mahasiswa di Desa Pulau Pahawang,” ujarnya.
Kegiatan ini sangat bermanfaat karena tidak hanya menambah pengetahuan masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha berbasis potensi lokal. Kami berharap kerja sama dengan Itera dapat terus berlanjut, termasuk melalui program Kuliah Kerja Nyata mahasiswa di Desa Pulau Pahawang
Dr. Elsa Windiastuti menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis riset bagi masyarakat. “Potensi Sargassum di wilayah pesisir sangat besar. Melalui pendampingan ini, kami mendorong masyarakat agar mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah sekaligus mendukung sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan,” katanya.
Sementara itu, Novriadi menekankan pentingnya pemanfaatan sumber daya pesisir secara berkelanjutan agar tetap menjaga keseimbangan ekosistem. “Pemanfaatan Sargassum dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, tetapi proses pengambilannya juga harus memperhatikan kelestarian lingkungan agar ketersediaannya tetap terjaga,” jelasnya.
Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Desa Pulau Pahawang sebagai kawasan percontohan pengelolaan sumber daya pesisir berbasis inovasi dan keberlanjutan. Keterlibatan mahasiswa melalui program KKN juga diharapkan dapat memperluas dampak program sekaligus memperkuat sinergi antara akademisi dan masyarakat. (Rilis/Humas)


