You are currently viewing Akademisi Itera Bahas Kesiapsiagaan Hadapi Aktivitas GAK dalam Siniar Polda Lampung

Akademisi Itera Bahas Kesiapsiagaan Hadapi Aktivitas GAK dalam Siniar Polda Lampung

ITERA NEWS — Akademisi Institut Teknologi Sumatera (Itera), Dr. Ikah Ning P. Permanasari, membahas pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) dalam siniar atau podcast bersama Polda Lampung, Senin, 12 Oktober 2026. Dr. Ikah yang merupakan Ketua Kelompok Keilmuan Fisika Teori dan Kebumian Itera menekankan pentingnya pemahaman ilmiah, komunikasi kebencanaan, dan kolaborasi lintas institusi untuk membangun kewaspadaan masyarakat.

Dalam siniar tersebut, Dr. Ikah menegaskan bahwa hidup berdampingan dengan gunung api aktif tidak berarti harus diliputi ketakutan. Sebaliknya, masyarakat perlu memahami karakteristik gunung api dan potensi bahayanya agar dapat menyikapi aktivitas vulkanik secara tepat.

Ia juga menambahkan, kajian kebumian dan hasil pemantauan aktivitas gunung api menjadi dasar penting dalam upaya mitigasi bencana. Informasi tersebut dapat membantu mengenali perubahan aktivitas, memahami potensi ancaman, serta mendukung pengambilan keputusan berdasarkan kondisi dan rekomendasi dari pihak berwenang.

Hidup berdampingan dengan Gunung Anak Krakatau bukan berarti menghilangkan risiko, melainkan memahami potensi ancaman, mengenali informasi resmi, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan bencana

Selain pemantauan ilmiah, penyampaian informasi kepada masyarakat juga berperan penting dalam membangun kesiapsiagaan. “Informasi kebencanaan perlu disampaikan secara akurat, mudah dipahami, dan bersumber dari lembaga yang berwenang. Dengan demikian, masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan tanpa terjebak dalam kepanikan akibat informasi yang tidak terverifikasi,” ujar Dr. Ikah.

Dr. Ikah menyoroti pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, aparat keamanan, lembaga kebencanaan, dan masyarakat. Kerja sama tersebut diperlukan agar hasil kajian ilmiah dapat diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami serta langkah mitigasi yang dapat diterapkan di lapangan.

Keterlibatan akademisi dalam program siniar tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendekatkan pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan masyarakat. Pemahaman mengenai fenomena kebumian diharapkan tidak hanya meningkatkan kesadaran terhadap potensi bahaya, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kesiapsiagaan yang berkelanjutan.

“Hidup berdampingan dengan Gunung Anak Krakatau bukan berarti menghilangkan risiko, melainkan memahami potensi ancaman, mengenali informasi resmi, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan bencana,” ujar Dr. Ikah. (Rilis/Humas)