ITERA NEWS-Program Studi Teknik Kelautan Institut Teknologi Sumatera (Itera) melaksanakan Studi Kaji dan Observasi Lapangan 2026 di Semarang, Klaten, dan Yogyakarta pada 28 September sampai dengan 2 Oktober 2026. Kegiatan yang diikuti sekitar 80 mahasiswa dan 8 dosen ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dengan mengajak mahasiswa mengamati langsung dinamika pesisir, pelabuhan, teknologi kelautan, serta penerapannya di lapangan.
Kegiatan ini menghubungkan materi perkuliahan dengan kondisi nyata melalui sejumlah kunjungan akademik dan observasi lapangan. Mahasiswa mempelajari berbagai aspek Teknik Kelautan, mulai dari oseanografi, dinamika pantai, hidrografi, navigasi, meteorologi maritim, hingga infrastruktur pelabuhan dan perlindungan pantai.
Di Semarang, rombongan mengawali kegiatan dengan kunjungan ke Departemen Oseanografi Universitas Diponegoro (Undip). Mahasiswa berdiskusi dan bertukar pengetahuan mengenai perkembangan keilmuan, riset, serta berbagai persoalan pesisir di Indonesia.
Pembelajaran kemudian dilanjutkan di Pantai Marina Semarang dengan mengamati dinamika garis pantai, banjir pesisir (rob), penurunan muka tanah (land subsidence), abrasi, dan infrastruktur perlindungan pantai. Rombongan juga dijadwalkan mengunjungi BMKG, KSOP, dan Distrik Navigasi di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas untuk mempelajari meteorologi maritim, keselamatan pelayaran, sistem navigasi, dan aktivitas kepelabuhanan.
Perjalanan akademik berlanjut ke Umbul Ponggok, Klaten, sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Hidrologi. Di Yogyakarta, mahasiswa dijadwalkan mengunjungi Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai (BTIPDP) BRIN untuk mengenal penelitian, pemodelan, dan pengembangan teknologi infrastruktur pelabuhan serta dinamika pantai.
Mahasiswa juga melakukan observasi di Pantai Glagah, Kulon Progo, sebagai laboratorium alam untuk mengamati hubungan antara proses hidro-oseanografi, morfologi pantai, dan bangunan pelindung pantai.
Koordinator lapangan, Ulil Amri, S.Pi., M.Si., mengatakan kegiatan ini dirancang agar mahasiswa mampu menghubungkan teori dengan persoalan nyata di lapangan.
“Mahasiswa perlu melihat sendiri bagaimana gelombang, pasang surut, sedimentasi, perubahan garis pantai, navigasi, hingga infrastruktur pesisir dan pelabuhan saling berinteraksi. Dari lapangan, mahasiswa belajar bahwa suatu persoalan kelautan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dari satu sudut pandang,” ujar Ulil.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengintegrasikan teori, data, dan hasil observasi untuk memahami persoalan kelautan sekaligus merumuskan alternatif penyelesaian berbasis pendekatan rekayasa. Kegiatan ini juga memperkuat jejaring Program Studi Teknik Kelautan Itera dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan instansi teknis di bidang kelautan dan pesisir.
