Itera Terima Estafet Pataka IABI, Siap Jadi Tuan Rumah Riset Kebencanaan Nasional

Itera Terima Estafet Pataka IABI, Siap Jadi Tuan Rumah Riset Kebencanaan Nasional

Print Friendly, PDF & Email

ITERA NEWS – Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera), Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha, PhD., resmi menerima estafet Pataka Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) dalam penutupan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Kebencanaan ke-9 yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), beberapa waktu lalu. Penyerahan simbolik ini menandai kesiapan Itera sebagai tuan rumah penyelenggaraan PIT ke-10, sekaligus mempertegas posisi strategisnya dalam lanskap riset kebencanaan nasional.

Momentum serah terima Pataka tersebut menjadi penanda penting dalam kesinambungan forum ilmiah kebencanaan Indonesia yang sejak 2014 berfungsi sebagai wadah konsolidasi epistemik, pertukaran pengetahuan, serta penguatan jejaring antar-aktor kebencanaan lintas sektor. Kegiatan PIT ke-9 sendiri mengangkat tema “Penguatan Tata Kelola Risiko Bencana untuk Ketangguhan (Strengthening Disaster Risk Governance for Resilience)”, yang merefleksikan urgensi transformasi paradigma dari pendekatan reaktif menuju risk-informed development yang lebih integratif dan adaptif  .

Dalam konteks tersebut, penunjukan Itera sebagai tuan rumah berikutnya tidak semata bersifat seremonial, melainkan mengandung mandat strategis untuk mendorong orkestrasi riset kebencanaan yang lebih terkoordinasi, kolaboratif, dan berbasis data. Hal ini sejalan dengan temuan dalam forum PIT ke-9 yang menyoroti masih adanya kesenjangan implementasi antara kerangka kebijakan global seperti Sendai Framework for Disaster Risk Reduction (2015–2030) dengan praktik di tingkat nasional dan lokal, khususnya dalam aspek integrasi data risiko, interoperabilitas sistem peringatan dini, serta konektivitas antara informasi risiko dan kapasitas respons masyarakat  .

Ketua Umum IABI yang juga sekaligus Kepala Pusat Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami Itera, Prof. Harkunti Pertiwi Rahayu, PhD., dalam pemaparannya menegaskan bahwa tantangan kebencanaan Indonesia semakin kompleks akibat interaksi antara faktor alam dan antropogenik, sehingga memerlukan pendekatan tata kelola yang sistemik dan lintas disiplin. Indonesia sebagai multi-hazard hotspot menghadapi tekanan risiko yang tidak hanya meningkat secara kuantitatif, tetapi juga mengalami transformasi kualitatif akibat perubahan iklim, urbanisasi cepat, dan degradasi lingkungan. Oleh karena itu, keberadaan forum PIT dan keberlanjutannya menjadi krusial dalam membangun knowledge ecosystem kebencanaan yang mampu menjembatani riset, kebijakan, dan praktik.

Kepala Pusat Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami Itera, Prof. Harkunti Pertiwi Rahayu, PhD., dalam pemaparannya menegaskan bahwa tantangan kebencanaan Indonesia semakin kompleks akibat interaksi antara faktor alam dan antropogenik, sehingga memerlukan pendekatan tata kelola yang sistemik dan lintas disiplin.

Delegasi Itera yang hadir dalam kegiatan ini, Dr. Muhammad Zainal Ibad dan Dr. Adnin Musadri Asbi, menyampaikan komitmennya untuk menjadikan PIT ke-10 sebagai platform akselerasi riset kebencanaan berbasis inovasi teknologi dan pendekatan transdisipliner, termasuk integrasi kecerdasan buatan, pemodelan risiko spasial, serta pendekatan complex system dalam sistem sosial-kebencanaan. Selain itu, Itera juga berencana memperkuat keterlibatan pemerintah daerah, komunitas lokal, serta sektor industri dalam kerangka collaborative governance for resilience.

PIT ke-9 IABI sendiri dihadiri oleh sekitar 600 peserta yang terdiri dari akademisi, peneliti, praktisi, birokrat, serta masyarakat umum, dan menghadirkan berbagai sesi strategis seperti knowledge sharing, seminar paralel, hingga perumusan rekomendasi kebijakan kebencanaan nasional. Rangkaian kegiatan ini menghasilkan berbagai rekomendasi penting, khususnya terkait penguatan sistem peringatan dini multi-bahaya (multi-hazard early warning system), peningkatan literasi risiko masyarakat, serta integrasi pengurangan risiko bencana dalam siklus pembangunan nasional.

Dengan diterimanya estafet Pataka ini, Itera diharapkan tidak hanya menjadi tuan rumah secara administratif, tetapi juga berperan sebagai knowledge hub baru dalam ekosistem riset kebencanaan Indonesia. Ke depan, penyelenggaraan PIT ke-10 di ITERA diproyeksikan menjadi momentum strategis untuk memperkuat arah kebijakan riset kebencanaan nasional yang lebih terintegrasi, inklusif, dan berorientasi pada ketangguhan jangka panjang. (Rilis/Humas)