ITERA NEWS – Pusat Penelitian dan Publikasi Ilmiah Institut Teknologi Sumatera (Itera) menggelar Workshop Penulisan Artikel Ilmiah di Aula Gedung C Itera, Rabu, 7 Oktober 2026. Kegiatan diikuti para dosen, sebagai langkah awal rangkaian program Publication Incubator for Science & High Technology – Itera (Publish-IT). Program inkubasi ini dirancang berjalan intensif selama lima pekan ke depan mencakup tujuh kali pertemuan, dengan target utama karya ilmiah para peserta dapat langsung diterbitkan setelah program berakhir.
Kepala Pusat Penelitian dan Publikasi Ilmiah Itera, Satrio Muhammad Alif, S.T., M.T., Ph.D. menyampaikan pentingnya komitmen peserta dalam mengikuti seluruh rangkaian inkubasi ini guna meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi bereputasi dari para akademisi Itera.
Program inkubasi ini dirancang berjalan intensif selama lima pekan ke depan mencakup tujuh kali pertemuan, dengan target utama karya ilmiah para peserta dapat langsung diterbitkan setelah program berakhir
Sesi utama workshop menghadirkan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Prof. Dr. Radix Suharjo, S.P., M.Sc., sebagai narasumber, dengan dipandu oleh Dr. Dani Al Mahkya, S.Si., M.Si., dosen Program Studi Sains Aktuaria Itera, sebagai moderator. Membuka pemaparannya, Prof. Radix mengulas peran publikasi ilmiah sebagai bagian integral dari tridarma perguruan tinggi yang menuntut dedikasi serta energi ekstra dari para dosen. Ia membedah proses penulisan secara komprehensif, mulai dari tahap menggagas konsep hingga artikel berhasil terbit, berdasarkan sudut pandang ganda yang dimilikinya sebagai penulis aktif sekaligus reviewer jurnal.
Memasuki sesi diskusi dan tanya jawab, suasana berlangsung interaktif saat membahas strategi publikasi untuk riset-riset berbasis prototipe. Prof. Radix juga membagikan pengalaman inspiratifnya dalam mencapai gelar profesor di usia muda serta kiat-kiat strategis dalam meningkatkan nilai h-index tanpa mengesampingkan etika akademik.
Sebagai penutup, narasumber menekankan pentingnya membangun jejaring kolaborasi antara peneliti dengan memilih mitra riset yang benar-benar memahami rekam jejak akademisnya. Kolaborasi yang kuat, dilandasi keterbukaan dan kerendahan hati, dinilai menjadi kunci utama untuk saling mengisi, mengingatkan, serta menjaga semangat menulis di lingkungan akademisi. (Rilis/Humas)




